Teh talua merupakan salah satu minuman tradisional khas
Minangkabau yang hingga kini masih bertahan di tengah perkembangan zaman kini.
Minuman ini dikenal luas di Sumatera Barat, terutama di berbagai lapau restoran
Padang dan warung kopi tradisional, sebagai sajian yang tidak hanya
menghangatkan tubuh tetapi juga dipercaya mampu menambah stamina.
Keunikan teh talua terletak pada bahan dan cara
pembuatannya. Jika teh pada umumnya hanya diseduh dengan gula atau tambahan
susu, teh talua justru memadukan teh panas dengan telur yang telah dikocok.
Telur yang digunakan biasanya adalah telur ayam kampung atau telur bebek. Kedua
jenis telur ini dipilih karena dianggap memiliki kandungan gizi yang lebih baik
dibandingkan telur biasa.
Proses pembuatan teh talua dimulai dari mengocok telur
bersama gula hingga menghasilkan tekstur kental dan berbusa. Pada tahap ini,
beberapa penjual menambahkan sedikit susu kental manis untuk memperkaya rasa.
Setelah campuran telur dan gula tersebut siap, air teh panas kemudian
dituangkan secara perlahan sambil terus diaduk agar menghasilkan tekstur yang
lembut dan merata. Untuk mengurangi aroma amis yang mungkin muncul dari telur,
ditambahkan sedikit perasan jeruk nipis. Hasil akhirnya adalah minuman berwarna
cokelat keemasan dengan lapisan busa di bagian atas.
Di Sumatera Barat, teh talua bukan sekadar minuman biasa,
melainkan bagian dari kebiasaan sosial masyarakat. Minuman ini kerap dinikmati
saat bersantai di lapau, baik pada pagi hari sebelum memulai aktivitas maupun
pada sore hari setelah bekerja. Suasana lapau yang sederhana justru menjadi
tempat yang ideal untuk menikmati teh talua, karena di sanalah interaksi sosial
antarwarga berlangsung secara alami.
Selain memiliki cita rasa yang khas, teh talua juga dikenal
karena manfaatnya. Kandungan protein dari telur memberikan asupan energi
tambahan bagi tubuh, sementara gula berfungsi sebagai sumber energi cepat.
Kombinasi ini membuat teh talua sering dikonsumsi oleh pekerja yang membutuhkan
tenaga ekstra dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Tidak jarang, minuman
ini juga dipercaya dapat membantu memulihkan kondisi tubuh setelah lelah
bekerja.
Dalam kajian sejarahnya, teh talua disebut telah hadir sejak
masa kolonial. Eddi Novra dalam bukunya yang juga berjudul Teh Talua
menyebutkan bahwa terdapat beragam versi mengenai asal-usul minuman ini.
Dikutip dari InfoPublik.id, Eddi Novra dalam penelusurannya menuturkan:
“Dari penelusuran beberapa narasumber terpercaya, minuman
ini sudah ada sejak masa tanam paksa Belanda terhadap masyarakat/pekerja Sumatra
Barat,” ungkapnya.
Seiring perkembangan zaman, keberadaan teh talua tetap
terjaga meskipun berbagai minuman modern semakin mudah dijumpai. Di beberapa
tempat, teh talua bahkan mulai disajikan dengan variasi tambahan, seperti
penggunaan rempah-rempah untuk memberikan aroma yang lebih kaya. Namun
demikian, cara penyajian tradisional tetap menjadi pilihan utama karena
dianggap mampu mempertahankan cita rasa asli yang telah dikenal sejak dahulu.
Pelestarian teh talua tidak terlepas dari peran masyarakat
Minangkabau yang terus menjaga tradisi kuliner mereka. Minuman ini menjadi
salah satu identitas budaya yang mencerminkan kearifan lokal dalam memanfaatkan
bahan sederhana menjadi sajian yang bernilai. Dalam konteks yang lebih luas,
teh talua juga menunjukkan bagaimana tradisi dapat bertahan dan beradaptasi
tanpa kehilangan esensinya. Serta, kehadirannya yang masih mudah ditemukan
hingga saat ini menjadi bukti bahwa warisan kuliner lokal memiliki daya tahan
yang kuat di tengah era zaman modernisasi.
Jenis Berita :
Feature
Penulis :
Habibah – 3B D4 Bahasa Inggris untuk KBP
Editor :
Divia Putri Zen – 3B D4 Bahasa Inggris untuk KBP
