Waspadai Kolesterol Saat Lebaran, Pola Makan Bersantan Jadi Pemicu

Foto: iStock (Yarphoto)



Momen Lebaran selalu identik dengan hidangan khas yang menggugah selera. Di Sumatera Barat, berbagai menu bersantan seperti rendang, gulai, hingga aneka kue tradisional menjadi sajian utama yang dinantikan saat berkumpul bersama keluarga. Suasana hangat dan kebersamaan membuat aktivitas makan sering kali berlangsung lebih lama dan dalam porsi yang lebih besar dari biasanya.

Namun, di balik kelezatan tersebut, tubuh sering kali harus beradaptasi dengan perubahan pola makan yang terjadi secara tiba-tiba. Selama Lebaran, konsumsi makanan tinggi lemak cenderung meningkat, sementara aktivitas fisik justru berkurang. Waktu yang dihabiskan untuk bersilaturahmi membuat banyak orang lebih sering duduk dan kurang bergerak.

Perubahan ini, meskipun hanya berlangsung dalam beberapa hari, dapat memberikan dampak pada kondisi tubuh. Setelah beberapa hari perayaan, sebagian masyarakat mulai merasakan perubahan seperti cepat lelah, tubuh terasa lebih berat, hingga kantuk berlebih. Kondisi ini kerap dianggap hal biasa, padahal bisa menjadi sinyal awal bahwa tubuh sedang mengalami ketidakseimbangan.

Secara fisiologis, tubuh membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan asupan makanan yang lebih tinggi lemak dan kalori. Ketika konsumsi tersebut tidak diimbangi dengan aktivitas fisik yang cukup, maka potensi terjadinya penumpukan lemak dalam tubuh menjadi lebih besar. Dalam jangka pendek, hal ini dapat menurunkan stamina, sementara dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko gangguan metabolik.

Secara nasional, masalah kolesterol masih menjadi perhatian dalam kesehatan masyarakat. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, sekitar 28 persen masyarakat Indonesia memiliki kadar kolesterol tinggi. Selain itu, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa kondisi ini juga mulai banyak ditemukan pada kelompok usia muda, dengan prevalensi sekitar 7,8 persen pada usia 15–24 tahun. Data ini menunjukkan bahwa kolesterol tidak lagi hanya menjadi persoalan usia lanjut, tetapi juga dapat dialami oleh kelompok usia produktif.

Kondisi tersebut mencerminkan perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin dinamis. Pola makan tinggi lemak, kurangnya aktivitas fisik, serta kebiasaan makan dalam jumlah besar dalam waktu singkat menjadi faktor yang saling berkaitan. Momentum Lebaran, dengan berbagai hidangan khas yang tersedia, sering kali memperkuat kebiasaan tersebut.

Di Sumatera Barat, di mana makanan bersantan menjadi bagian dari identitas kuliner, tantangan ini menjadi semakin relevan. Rendang, gulai, dan berbagai hidangan khas lainnya memang kaya rasa dan memiliki nilai budaya yang kuat. Namun, konsumsi yang berlebihan tanpa kontrol tetap berpotensi berdampak pada kesehatan.

Meski demikian, masyarakat tidak perlu sepenuhnya menghindari makanan khas Lebaran. Kunci utamanya terletak pada keseimbangan dalam pola makan dan gaya hidup. Mengatur porsi makan, menghindari konsumsi berlebihan dalam satu waktu, serta memberi jeda antar waktu makan dapat membantu tubuh tetap stabil.

Selain itu, aktivitas fisik ringan seperti berjalan kaki, membantu pekerjaan rumah, atau sekadar melakukan peregangan juga dapat membantu menjaga metabolisme tubuh tetap aktif. Hal sederhana ini sering kali terabaikan selama masa libur, padahal memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan.

Menjaga asupan cairan juga tidak kalah penting. Konsumsi air putih yang cukup dapat membantu proses metabolisme dan menjaga keseimbangan tubuh setelah mengonsumsi makanan yang lebih berat dari biasanya.

Lebaran tetap menjadi momen untuk menikmati kebersamaan dan hidangan istimewa. Namun, di tengah suasana tersebut, kesadaran untuk menjaga kesehatan menjadi hal yang tidak kalah penting. Dengan pola makan yang lebih terkontrol dan aktivitas yang seimbang, masyarakat dapat menikmati perayaan tanpa harus mengorbankan kondisi tubuh di kemudian hari.

 

 

Jenis Berita     : Feature

Penulis            : Adinda Aulia Putri – 3A D4 Bahasa Inggris untuk KBP

Editor               : Delia Novitri Delin – 3A D4 Bahasa Inggris untuk KBP 

 

Previous Post Next Post