![]() |
Ihsan Satria, mahasiswa Teknik Mesin
sedang berada di salah satu tempat ibadah China.
|
Dok: Ihsan Satria |
CREWPERS.ID
- Di sebuah kampung di Padang Pariaman, seorang
anak pernah tumbuh dengan kesulitan membaca. Selama hampir lima tahun, ia
tertinggal pelajaran dan kerap memperoleh nilai nol. Sekolah bukan tempat yang
ia sukai. Namun, perjalanan hidup membawanya melampaui batas yang dulu terasa
mustahil, hingga kini menempuh pendidikan di China. Anak itu adalah Ihsan
Satria, mahasiswa Teknik Mesin Politeknik Negeri Padang.
Perjalanan
Ihsan tidak dibangun dari kemudahan. Sejak kecil, ia hidup dalam keterbatasan.
Ia sempat tinggal bersama saudara ibunya di Padang hingga taman kanak-kanak,
sebelum kembali ke kampung untuk melanjutkan sekolah dasar. Ibunya bekerja
sebagai pedagang sayur dan buah untuk menghidupi keluarga.
Meski kebutuhan
sehari-hari relatif terpenuhi dari hasil berdagang, perjalanan pendidikan Ihsan
diwarnai tantangan. Ia tidak bisa membaca hingga hampir lima tahun. Kondisi itu
membuatnya tertinggal dari teman-temannya. Akan tetapi, seorang guru terus
membimbingnya hingga akhirnya ia mampu mengeja dan memahami pelajaran.
Perubahan mulai
terasa ketika ia mengenal matematika, khususnya tabel perkalian. Dari sana, ia
mulai menemukan kepercayaan diri dalam belajar. Ihsan mengingat masa ketika ia
kerap memperoleh nilai nol. Namun, saat mulai memahami matematika, nilainya
perlahan meningkat hingga mencapai angka sempurna. Perubahan itu menjadi titik
awal tumbuhnya ketertarikan terhadap belajar.
Sejak saat itu,
sekolah perlahan menjadi sesuatu yang ingin ia perjuangkan. Tetapi, tantangan
tidak berhenti di sana. Semasa Sekolah Dasar hingga Madrasah Tsanawiyah, Ihsan
kerap berjalan kaki atau menumpang teman untuk berangkat sekolah. Memasuki
Jenjang Sekolah Menengah Atas, persoalan biaya semakin terasa. Uang SPP sempat
menumpuk karena keterbatasan ekonomi keluarga, tetapi pihak sekolah membantu
memberikan keringanan Ia juga kerap menunggu hingga malam di sekolah karena
tidak memiliki kendaraan untuk pulang dan harus menanti orang tuanya selesai
bekerja.
Cobaan semakin
berat ketika ibunya mengalami kecelakaan saat ia duduk di kelas dua SMA. Selama
sekitar dua bulan, keluarga tidak memiliki pemasukan. Dalam situasi itu, Ihsan
memilih berhenti meminta uang jajan. Berhadapan dengan kondisi ini, ia memilih
berhenti meminta uang jajan karena tidak ingin menambah beban orang tuanya.
Keterbatasan
tersebut membuat Ilham berpikir melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi
terasa seperti mimpi yang jauh. Namun, sebuah video profil tentang Politeknik
Negeri Padang mengubah pandangannya. Ia melihat peluang untuk belajar sekaligus
meningkatkan keterampilan melalui pendidikan vokasi.
Ihsan kemudian
mendaftar melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Meski
awalnya tidak masuk dalam kuota, ia mendapat kesempatan mengisi kursi yang
kosong. Ia juga memperoleh bantuan pendidikan melalui Kartu Indonesia Pintar
(KIP) Kuliah.
Bagi Ihsan,
kesempatan bukan sekadar soal biaya. Bantuan KIP Kuliah tidak hanya membebaskan
biaya pendidikan, tetapi juga memberikan uang saku. Namun, Ihsan memilih hidup
hemat. Ia bahkan telah membiasakan diri tidak bergantung pada uang jajan sejak
masa SMA, dan menggunakan bantuan tersebut secara selektif untuk kebutuhan
penting serta rencana pendidikan ke depan.
Lingkungan
kampus membuat ruang untuk ia berkembang. Tinggal bersama pamannya yang bekerja
di Politeknik Negeri Padang membuat kehidupannya lebih stabil dibandingkan masa
sekolah sebelumnya. Kesempatan baru datang ketika ia melihat pengumuman program
studi ke China di bengkel kampus. Program tersebut membuka peluang bagi
mahasiswa untuk merasakan pengalaman belajar di luar negeri. Tanpa ragu, ia
mendaftar.
“Aku ingin
melihat teknologi maju, robot, hal-hal yang dulu cuma jadi mimpi kecil,”
katanya.
Keberangkatan
ke luar negeri bukan perkara mudah. Biaya perjalanan harus diusahakan secara
mandiri. Meski sempat diragukan keluarga, dukungan dari berbagai pihak akhirnya
mengantarkannya berangkat. Ia menjadi orang pertama di keluarganya yang
menempuh pendidikan di luar negeri.
Di Negeri Tirai
Bambu itu, Ihsan menghadapi tantangan baru. Bahasa menjadi hambatan utama
karena ia belum fasih berbahasa Inggris maupun Mandarin. Meski demikian, ia
berusaha beradaptasi dengan lingkungan belajar yang berbeda. Ia merasakan
suasana belajar yang lebih terbuka, di mana mahasiswa didorong untuk aktif
bertanya dan memahami materi secara mandiri.
Ihsan tetap
memegang prinsip hidup hemat. Ia lebih sering memasak sendiri untuk menekan
biaya hidup, meski harus menyesuaikan dengan bahan dan rasa yang berbeda.
Selama menjalani kehidupan di sana, ia berupaya mengatur pengeluaran seminimal
mungkin agar dapat bertahan dalam jangka panjang.
Perjalanan
panjang itu tidak membuat Ihsan merasa dirinya istimewa. Ia memilih
menjalaninya dengan kesabaran, satu langkah demi satu langkah. Ia melihat
seluruh proses yang dijalaninya sejak SMA sebagai bagian dari persiapan diri
dari rintangan yang harus dilalui.
Kini, mimpinya
belum berhenti. Ia berkeinginan melanjutkan pendidikan hingga jenjang doktor.
Baginya, perjalanan ini bukan hanya tentang pencapaian pribadi, tetapi juga
tentang harapan orang-orang di kampung halamannya.
“Semangat dan jangan menyerah. Kadang ada hal yang tidak disangka-sangka akan datang dalam hidup,” tutupnya.
Editor : Rahma Aurella –
3A D4 Bahasa Inggris untuk KBP
Penulis : Dina
Safira – 3A D4 Bahasa Inggris untuk KBP
