Ilustrasi sekelompok mahasiswa menikmati waktu bersama sebagai gambaran relasi pertemanan di lingkungan kampus.
Foto: Pinterest
CREWPERS.ID
– Di tengah kehidupan perkuliahan yang penuh dinamika, relasi pertemanan
menjadi salah satu sumber dukungan penting bagi mahasiswa. Tidak hanya sebagai
tempat berbagi cerita, kehadiran teman juga berperan dalam membantu menjaga
keseimbangan emosional di tengah tekanan akademik dan sosial.
Mahasiswa
berada dalam fase transisi yang menuntut kemampuan beradaptasi yang tinggi.
Perubahan lingkungan, tuntutan kemandirian, serta ekspektasi akademik
menjadikan mereka rentan terhadap tekanan psikologis. Dalam kondisi ini,
pertemanan yang sehat dapat menjadi ruang aman untuk berbagi, saling
menguatkan, dan merasa dipahami.
Penelitian
Adwah (2024) menunjukkan bahwa dukungan sosial dari teman sebaya berperan
signifikan dalam menurunkan tingkat stres mahasiswa. Bentuk dukungan ini tidak
selalu harus berupa solusi konkret, melainkan cukup melalui kesediaan untuk
mendengarkan tanpa menghakimi.
Hal
tersebut dirasakan oleh Rahma Alya (20), mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris
Politeknik Negeri Padang. Ia menilai bahwa memiliki lingkungan pertemanan yang
tepat sangat membantu dalam menjalani kehidupan kampus.
“Kalau
ketemu teman yang tepat, justru ngebantu banget. Ada yang bisa diajak cerita
tanpa takut dihakimi, jadi lebih lega juga. Jadi sebenarnya bukan pertemanannya
yang salah, tapi orangnya yang beda-beda,” ujarnya.
Meski
tidak semua pengalaman berbagi selalu berjalan sempurna, Alya menganggap hal
tersebut sebagai bagian dari proses memahami dinamika pertemanan. Menurutnya,
setiap individu memiliki cara yang berbeda dalam merespons cerita orang lain.
Pandangan
serupa juga disampaikan oleh Maliha Begum (21), mahasiswa Jurusan Administrasi
Niaga Politeknik Negeri Padang. Ia menilai bahwa kualitas pertemanan jauh lebih
penting dibandingkan jumlahnya.
“Aku
nggak butuh banyak teman buat cerita. Cukup satu orang yang benar-benar bisa
dipercaya. Aku punya satu teman yang jadi tempat aman buat aku cerita semuanya,
dan dari situ aku ngerasa sangat terbantu karena selalu dapat dukungan,”
ungkapnya.
Menurut
Maliha, kehadiran relasi yang suportif mampu memberikan rasa tenang dan
membantu menjaga kestabilan emosional, terutama di tengah tekanan perkuliahan
yang cukup tinggi.
Pengalaman
tersebut menunjukkan bahwa pertemanan yang sehat memiliki peran besar dalam
membentuk kesejahteraan mental mahasiswa. Interaksi yang dilandasi empati,
saling menghargai, dan komunikasi terbuka dapat menciptakan lingkungan yang
mendukung perkembangan individu.
Hal
ini sejalan dengan temuan dari World Health
Organization (2025) menyebutkan bahwa satu dari tujuh remaja dan dewasa
mengalami gangguan mental. Organisasi tersebut juga menekankan bahwa lingkungan
sosial, termasuk pertemanan, memiliki peran penting dalam membentuk
kesejahteraan mental individu muda.
Di
Indonesia, perhatian terhadap kesehatan mental juga terus meningkat. Data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui
Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa kondisi kesehatan
mental pada kelompok usia muda dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk
relasi sosial dan dukungan dari lingkungan sekitar.
Dalam
konteks tersebut, relasi pertemanan memiliki posisi yang strategis. Pertemanan
dapat menjadi faktor protektif yang membantu individu bertahan dalam tekanan,
sekaligus menjadi ruang untuk saling menguatkan dalam menghadapi berbagai
tantangan.
Artinya,
keberadaan teman tidak hanya dilihat dari jumlah, tetapi juga dari kualitas
hubungan yang dibangun. Pertemanan yang sehat ditandai dengan adanya rasa
saling menghargai, kepercayaan, serta komunikasi yang terbuka dan suportif.
Melalui interaksi yang positif, relasi dapat menjadi sumber energi yang
membantu menjaga keseimbangan emosional.
Di sisi lain, penting bagi
mahasiswa untuk terus mengembangkan literasi kesehatan mental, terutama dalam
memahami cara memberikan dukungan emosional yang tepat. Kemampuan menjadi
pendengar yang baik, menunjukkan empati, serta merespons dengan bijak menjadi
keterampilan penting dalam membangun relasi yang sehat.
Tanpa pemahaman tersebut,
perbedaan cara berkomunikasi terkadang dapat menimbulkan kesalahpahaman dalam
interaksi sehari-hari. Namun, hal ini umumnya menjadi bagian dari proses
pembelajaran sosial yang membantu mahasiswa berkembang dalam memahami diri
sendiri maupun orang lain.
Dalam menghadapi situasi
tersebut, sebagian mahasiswa mulai menemukan cara-cara positif untuk menjaga
kesehatan mental, seperti menulis jurnal, berbagi dengan orang terpercaya,
hingga berkonsultasi dengan tenaga profesional. Hal ini menunjukkan adanya
peningkatan kesadaran akan pentingnya menjaga kesejahteraan emosional.
Pada akhirnya, relasi pertemanan
di lingkungan kampus tidak hanya berkaitan dengan kedekatan sosial, tetapi juga
kualitas interaksi dan rasa aman yang dibangun di dalamnya. Mahasiswa dituntut
untuk lebih selektif dalam menjalin hubungan, sekaligus belajar menjadi bagian
dari lingkungan yang saling mendukung.
Relasi yang sehat dapat menjadi
pelindung dari tekanan mental yang semakin kompleks. Dengan dukungan yang
tepat, pertemanan tidak hanya membantu individu bertahan, tetapi juga mendorong
mereka untuk berkembang secara lebih optimal dalam menjalani kehidupan
akademik.
Jenis
Berita :
Softnews
Penulis : Meliza - 3A D4 Bahasa
Inggris KBP
Editor : Delia Novitri Delin - 3A D4
Bahasa Inggris KBP
