Cerita Ridwan Arpin: Mahasiswa PNP yang Temukan Ruang Kelas di Dunia Pemandu Wisata

 

Muhammad Ridwan Arpin, mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris Politeknik Negeri Padang yang aktif bekerja sebagai pemandu wisata bagi wisatawan asing.

Foto: Muhammad Ridwan Arpin

CREWPERS.ID - Tidak semua mahasiswa hanya menghabiskan waktunya di ruang kelas atau mengerjakan tugas perkuliahan. Muhammad Ridwan Arpin, mahasiswa semester enam Jurusan Bahasa Inggris Politeknik Negeri Padang, proses belajar justru juga berlangsung di luar kampus, tepatnya saat mendampingi wisatawan asing sebagai tour guide.

Bertemu dengan orang-orang baru dari berbagai belahan dunia, memperkenalkan keunikan budaya lokal, hingga mempraktikkan bahasa Inggris secara langsung kini telah menjadi bagian dari keseharian Ridwan. Di balik kesibukan akademiknya yang padat, ia menjalani pengalaman berharga yang tidak hanya memberinya penghasilan tambahan, tetapi juga menjadi ruang belajar berbeda dari biasanya.

Ketertarikannya untuk terjun ke industri pariwisata ini tidak muncul secara tiba-tiba. Sejak awal, Ridwan mengaku sangat menyukai kesempatan untuk berinteraksi dengan warga asing sekaligus mengenalkan potensi wisata yang ada di daerahnya. Keinginan kuat untuk menguji dan melatih kemampuan berbahasa Inggris di situasi nyata menjadi dorongan utama yang membuatnya berani mengambil pekerjaan tersebut.

“Awalnya saya tertarik jadi tour guide karena suka bertemu orang baru dan memperkenalkan budaya serta tempat wisata lokal kepada wisatawan asing. Selain itu, saya juga ingin melatih kemampuan bahasa Inggris secara langsung,” ujarnya.

Skill berbahasa Inggris Ridwan diuji lewat kewajibannya bertemu dengan wisatawan asing dengan berbagai latar belakang budaya, aksen, serta karakter. Ini menjadi tantangan tersendiri baginya.

Ia pun masih mengingat dengan jelas bagaimana pengalaman pertamanya saat bertugas di lapangan. Tidak bisa dipungkiri, ada rasa gugup sekaligus antusias saat berperan menjadi tour guide. Kendati demikian, momen perdana tersebut justru menjadi salah satu pengalaman hidup yang paling berkesan.

“Waktu pertama kali jadi tour guide, saya merasa gugup tapi juga senang. Pengalaman yang paling diingat adalah saat berhasil menjelaskan tempat wisata kepada wisatawan asing dan mereka terlihat puas serta menikmati perjalanan,” katanya.

‘Praktik lapangan’ ini membuat Ridwan menyadari ilmu yang ia peroleh di bangku kuliah tidak sekadar untuk memenuhi kebutuhan nilai akademik atau kelulusan semata. Ridwan menilai perkuliahan di Jurusan Bahasa Inggris sangat membantunya dalam pekerjaan tersebut, terutama dalam kemampuan berbicara dan komunikasi.

Menurutnya, beberapa aspek seperti speaking, pronunciation, dan communication skill merupakan modal utama yang paling sering terpakai ketika mendampingi wisatawan. Setiap hari, ia dituntut untuk mampu menjelaskan informasi dengan baik, merespons pertanyaan spontan dari wisatawan, sekaligus menjaga komunikasi agar suasana perjalanan tetap hangat dan menyenangkan.

Meski terlihat menyenangkan, pekerjaan sebagai pemandu wisata mandiri ini tidak luput dari hambatan. Ridwan mengungkapkan bahwa tantangan terbesar yang kerap ia hadapi adalah ketika harus melayani wisatawan dengan karakter yang menuntut, atau saat dihadapkan pada situasi di mana ia harus menjelaskan istilah lokal yang rumit secara mendadak. Situasi tidak terduga tersebut mengasah kemampuannya dalam berpikir aktif dan solutif.

Namun, segala kesulitan tersebut seolah terbayar lunas ketika ia mendapatkan apresiasi langsung dari para pengguna jasanya. Ridwan merasa ada kepuasan tersendiri yang tidak bisa diukur dengan materi saat para wisatawan asing tersebut menghargai keramahan dan pelayanan yang ia berikan selama perjalanan menelusuri sudut-sudut wisata lokal.

“Tantangan paling besar biasanya ketika menghadapi wisatawan dengan karakter berbeda atau saat harus menjelaskan sesuatu secara spontan dalam bahasa Inggris. Tapi pengalaman paling berkesan adalah ketika wisatawan memuji pelayanan dan keramahan saya,” tuturnya.

Kesibukan sebagai mahasiswa sekaligus tour guide tentu membuat Ridwan harus pandai mengatur waktu. Ia sangat sadar bahwa dunia akademik dan pekerjaannya sama-sama menuntut tanggung jawab dan konsekuensi yang besar. Oleh karena itu, ia harus pandai menentukan skala prioritas, kunci utama agar kedua dunia tersebut dapat berjalan beriringan tanpa ada yang dikorbankan.

Ketika jadwal perkuliahan sedang padat atau ada tugas pengerjaan proyek dari dosen, Ridwan memilih untuk menyelesaikannya lebih awal. Strategi ini ia lakukan agar ketika jadwal memandu wisatawan tiba, ia dapat fokus sepenuhnya di lapangan tanpa terbebani oleh kewajiban kampus yang tertunda.

Dari seluruh pengalaman yang dijalani, Ridwan merasa dirinya banyak berkembang. Ridwan merasakan perubahan besar pada pertumbuhan karakter dirinya. Selain keahlian berbahasa Inggris, aktivitas lapangannya ini juga mendidik mentalnya menjadi pribadi yang lebih percaya diri, adaptif, dan mampu memahami perspektif lintas budaya dengan lebih bijaksana.

“Dari pengalaman ini, saya belajar untuk lebih percaya diri, lebih disiplin, dan lebih baik dalam berkomunikasi dengan orang dari berbagai budaya dan negara,” ujarnya.

Ridwan sendiri berharap pengalaman yang ia kumpulkan selama masa kuliah ini dijadikan sebagai batu pijakan untuk karier jangka panjang. Ia menargetkan diri untuk berkembang menjadi seorang pemandu wisata profesional yang tersertifikasi, memperluas jaringan relasi internasionalnya, hingga memendam impian untuk merintis usaha mandiri di bidang agensi pariwisata dan travel.

 




Penulis             : Ivana Anindya Mulkan – 3B D4 Bahasa Inggris untuk KBP

Editor              : Rahma Aurella – 3A D4 Bahasa Inggris untuk KBP



Previous Post Next Post