Langkah Kreatif Tahara Delivia Merajut Imajinasi Menjadi Karya

Tahara Delivia, mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Negeri Padang yang aktif menulis novel sejak SMA, Selasa (26 Mei 2026).

 Foto: Tahara Delivia.



CREWPERS.ID — Menulis menjadi salah satu media bagi Tahara Delivia, mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Negeri Padang, untuk menuangkan imajinasi yang melintas di pikirannya. Ketertarikannya terhadap dunia kepenulisan fiksi sudah muncul sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Berawal dari kebiasaannya membaca novel, ia kemudian tertantang untuk menciptakan cerita versinya sendiri.

Kegemaran membaca berbagai karya fiksi secara tidak langsung mengembangkan daya imajinasi Tahara. Meskipun begitu, ia kerap merasa akhir atau alur cerita yang telah ia baca kurang memuaskan ekspektasi pribadinya. Alasan tersebut yang memicu dorongan kuat di dalam dirinya untuk menciptakan dunia karangan milik sendiri.

“Aku keseringan baca novel jadi dari dulu punya banyak imajinasi yang sering muncul di kepalaku. Tapi membaca karya orang lain ngebuat aku kurang puas dengan ekspektasi imajinasi ku sendiri, jadi aku mencoba membuat cerita versi aku,” tutur Tahara.

Ketertarikan tersebut perlahan menjadi sebuah kegemaran yang ia tekuni secara serius. Saat masih berseragam sekolah, ia mulai memberanikan diri membagikan karya tulisnya kepada publik melalui platform digital. Langkah awal tersebut berbuah manis karena cerita buatannya mulai mendapat tempat di hati pembaca.

Merajut untaian kata dalam sebuah novel memiliki kebahagiaan tersendiri dalam hati Tahara. Lewat menulis, Tahara bebas mengekspresikan kehidupan yang tidak bisa ia wujudkan dalam dunia nyata. Mahasiswi Sastra Indonesia itu sangat menikmati proses perancangan karakter tokoh di dalam cerita karena ia bebas menyusun dunia idealnya tanpa batasan.

“Aku suka penokohan dalam cerita yang tidak bisa aku lakukan di dunia nyata. Jadi seperti melihat kehidupan lain yang ideal tetapi tidak mungkin bisa diterapkan di dunia nyata,” ungkapnya.

Uniknya, ide cerita yang didapatkan Tahara tidak berasal dari hal-hal yang rumit. Inspirasi menulis bisa muncul kapan saja, bahkan saat ia sedang melakukan aktivitas sederhana sehari-hari seperti makan, mandi, atau sekadar mengobrol serius dengan teman.

Tahara biasanya langsung mencatat ide-ide spontan yang muncul ke dalam draf ponsel agar tidak lupa. Meski di tengah kesibukan kuliah, ia tetap berusaha meluangkan waktu untuk menulis. Setelah tugas-tugas kuliahnya selesai, barulah ia mengembangkan draf kasar tersebut menjadi sebuah cerita yang utuh.

Namun, proses ini pun tidak selalu berjalan mulus di tengah padatnya jadwal kampus. Tahara mengaku bahwa musuh terbesar dalam menjaga produktivitasnya adalah rasa malas dan momen kehilangan kosa kata untuk menggambarkan suasana cerita. Hambatan teknis tersebut sering kali membuatnya harus mandek berpikir sejenak di tengah-tengah proses penulisan naskah.

“Ketika mulai mengarang, seringkali di tengah jalan timbul malas menulis karena lupa kosa kata saat mendeskripsikan cerita,” jelasnya.

Rasa lelah dan jenuh memang sering membuat Tahara menunda kelanjutan ceritanya hingga berminggu-minggu. Meski begitu, ia menegaskan tidak pernah sedetik pun berniat untuk berhenti menulis secara permanen dari dunia yang telah membesarkannya. Baginya, kecintaan pada karya sastra dan kehadiran para pembaca setia adalah alasan terkuat untuk selalu kembali membuka laptop dan mengetik.

Dari seluruh karya yang telah ia publikasikan, novel pertama dan keduanya menempati posisi paling emosional di hatinya. Karya pertama menjadi pembuka jalan yang mempertemukannya dengan pembaca awal, sedangkan karya kedua sukses membuat nama penanya dikenal luas oleh pengguna Wattpad pada tahun 2020 lalu. Perjalanan Tahara menunjukkan bahwa hobi masa sekolah bisa berkembang menjadi sesuatu yang besar jika dirawat dengan komitmen yang kuat.

Tahara berharap bisa terus menjaga konsistensi menulisnya dan melahirkan cerita-cerita baru yang lebih segar. Kehadiran pembaca baru juga menjadi bahan bakar semangatnya untuk terus melahirkan buku fiksi yang berkualitas.

"Harapannya agar aku kembali bisa membuat karya-karya yang bagus dan menarik pembaca baru untuk karyaku. Aku juga berharap mendapatkan banyak inspirasi agar rajin mengarang cerita," tutup Tahara.

 


Jurnalis          : Ayu Putri Jamalia - 3B D4 Bahasa Inggris untuk KBP

Editor             : Rahma Aurella – 3A D4 Bahasa Inggris untuk KBP

 


 

Previous Post Next Post