Ubi Cilembu
tersusun rapi di gerai Ubi Bakar Madu Cilembu FR, Kota Padang, Senin (25 Mei 2026).
Foto: Sarah
Nurisma / Crewpers.
CREWPERS.ID — Aroma
manis dari ubi bakar terasa cukup kuat di salah satu sudut Kota Padang pada
malam hari. Aroma tersebut berasal dari gerai Ubi Bakar Madu Cilembu FR yang
hampir setiap malam ramai didatangi pembeli. Dari luar gerai, terlihat beberapa
orang mengantre sambil menunggu ubi yang baru matang keluar dari oven besar.
Ubi yang dijual di tempat ini bukan ubi biasa. Ubi Cilembu dikenal
memiliki rasa manis alami yang keluar saat dipanggang. Karena rasa manisnya
menyerupai madu, banyak orang menyebutnya sebagai ubi madu. Teksturnya juga
lebih lembut dibanding ubi bakar pada umumnya.
Gerai Ubi Bakar Madu Cilembu FR menjadi salah satu tempat yang cukup
dikenal di Kota Padang. Banyak pembeli datang karena penasaran setelah melihat
video di media sosial atau mendapat rekomendasi dari teman. Selain rasanya yang
manis, cara pengolahannya juga menjadi perhatian pengunjung.
Berbeda dengan penjual ubi bakar biasa yang menggunakan arang, tempat
ini memakai oven berukuran besar untuk memanggang ubi. Oven tersebut membuat
ubi matang lebih merata dan tidak mudah gosong. Saat baru keluar dari oven,
permukaan ubi terlihat mengilap dengan cairan manis yang keluar dari dalamnya.
Ubi yang digunakan didatangkan langsung dari Bandung agar kualitas dan
rasa khas Cilembunya tetap terjaga. Sebelum dipanggang, ubi terlebih dahulu
dipilih dan disortir agar yang dijual tetap dalam kondisi baik. Proses
memanggang biasanya memakan waktu cukup lama hingga tekstur ubi benar-benar
lembut.
Di depan gerai, pembeli terlihat datang silih berganti. Ada yang membeli
untuk dimakan langsung, ada juga yang membungkusnya untuk dibawa pulang.
Suasana paling ramai biasanya terjadi pada malam hari.
Salah satu pembeli, Della Putri (22), mahasiswi Universitas Andalas,
mengaku cukup sering membeli ubi di tempat tersebut. Menurutnya, rasa ubi di
sana berbeda dibanding ubi bakar biasa yang pernah ia coba sebelumnya.
“Aku
pertama kali coba karena diajak teman, tapi langsung ketagihan. Manisnya itu
beda banget sama ubi yang
biasa dibakar di rumah, kayak ada madunya beneran netes. Enak lagi karena
dioven, jadi rasanya lebih merata dan nggak ada yang gosong. Sekarang hampir
tiap minggu pasti ke sini, apalagi kalau lagi penat habis kuliah,” ujarnya.
Tidak hanya soal rasa, banyak pembeli juga menilai harga ubi di tempat
tersebut masih cukup terjangkau. Ubi dijual dengan harga sekitar Rp30.000 per
kilogram. Pembeli juga bisa membeli dalam jumlah kecil mulai dari Rp10.000.
Harga tersebut dinilai masih sesuai dengan kualitas dan ukuran ubi yang
diberikan.
Selain menjadi camilan, beberapa orang juga memilih ubi Cilembu karena
dianggap lebih mengenyangkan dan cocok dimakan saat malam hari. Kandungan serat
yang cukup tinggi membuat ubi ini sering dijadikan pilihan makanan ringan oleh
sebagian pembeli.
Di tengah banyaknya camilan modern yang terus bermunculan, ubi bakar
seperti ini tetap memiliki peminatnya sendiri. Rasanya yang sederhana justru
menjadi alasan banyak orang menyukainya. Tidak sedikit pembeli yang kembali
datang karena merasa cocok dengan rasa dan teksturnya.
Malam semakin larut, tetapi antrean pembeli di gerai tersebut masih
terlihat cukup ramai. Dari oven besar di sudut gerai, aroma manis ubi terus
tercium di udara. Bagi sebagian orang, ubi Cilembu bukan hanya camilan biasa,
tetapi juga menjadi makanan sederhana yang nyaman dinikmati saat malam hari.
Penulis :
Sarah
Nurisma — 3B D4 Bahasa Inggris KBP
Editor : Divia Putri Zen — 3B D4
Bahasa Inggris KBP
