Aroma Senja di Payakumbuh: Menyusuri Cita Rasa Legendaris Sate Danguang-Danguang

 

detik.com

Sore perlahan beranjak menuju senja. Asap tipis dari bara arang mengepul perlahan di sepanjang jalan Payakumbuh, menghadirkan aroma khas daging bakar yang menggoda siapa saja yang melintas. Di antara deretan warung sederhana, sate Danguang-Danguang menjadi salah satu kuliner yang tak pernah sepi pembeli.

Kuliner khas Minangkabau ini berasal dari Danguang-Danguang, Kabupaten Lima Puluh Kota. Meski sekilas mirip dengan sate Padang, sate Danguang-Danguang memiliki cita rasa yang berbeda. Sate ini memiliki kuah yang lebih ringan, berwarna kuning, dan tidak terlalu tajam di lidah.

Di sebuah pondok, deretan tusuk sate tersusun rapi di atas panggangan. Penjual dengan cekatan membolak-balik daging sapi yang mulai berubah warna, sesekali mengipasinya agar bara tetap menyala. Suasana hangat ini seolah menjadi magnet, menarik pelanggan dari berbagai daerah, mulai dari warga lokal hingga wisatawan.

Berbeda dari kebanyakan sate di Indonesia yang disajikan per porsi, sate Danguang-Danguang hadir dengan cara penyajian yang unik. Ketupat dan kuah disajikan terpisah dari tusukan daging. Dalam satu sajian, jumlah sate bisa mencapai puluhan tusuk.

Afri (34), salah seorang pelanggan, mengaku selalu menyempatkan diri mampir saat berkunjung ke Payakumbuh, seperti dikutip dari Radio Republik Indonesia. Ia menilai sate ini bukan hanya soal rasa, tetapi juga pengalaman.

“Lebih seru kalau langsung ke Danguang-Danguang,” ujarnya.

Menurutnya, perjalanan menuju lokasi justru menambah kenikmatan saat menyantap sate. Apalagi setelah menempuh perjalanan cukup jauh, setiap suapan terasa lebih memuaskan.

Afri juga menyoroti cita rasa kuah yang menjadi pembeda utama. Ia menyebut kuah sate Danguang-Danguang tidak terlalu pedas dan tidak terlalu tajam, sehingga lebih mudah dinikmati tanpa membuat cepat bosan.

Hal serupa juga dirasakan Amelia (28), warga Bukittinggi yang kerap datang khusus untuk berburu kuliner ini. Baginya, menikmati sate Danguang-Danguang langsung di daerah asalnya memberikan sensasi berbeda.

“Kalau ke daerahnya langsung, suasananya menambah rasa,” ujarnya.

Tidak hanya soal rasa, sate Danguang-Danguang juga menjadi bagian dari denyut ekonomi masyarakat lokal. Banyak pelaku usaha kecil menggantungkan hidup dari kuliner ini, mulai dari pedagang daging, penjual bumbu, hingga pemilik warung sate. Keberadaan sate ini turut menggerakkan roda ekonomi sekaligus menjaga tradisi kuliner tetap hidup.

Sate Danguang-Danguang menggunakan daging sapi sebagai bahan utamanya. Daging sapi dipotong kecil dan ditusuk rapi, lalu dibakar di atas bara tempurung kelapa. Setelah matang, sate disiram dengan kuah berbumbu rempah seperti kunyit, jahe, dan lengkuas yang dimasak bersama santan.

Hasilnya menghadirkan perpaduan rasa gurih dan sedikit pedas yang khas. Tidak heran jika kuliner ini sering disebut sebagai salah satu ikon rasa dari Payakumbuh.

Di tengah perkembangan zaman dan maraknya makanan modern, sate Danguang-Danguang justru tetap bertahan dengan cara tradisionalnya. Tidak banyak yang berubah dari proses memasak hingga cara penyajiannya. Justru di situlah letak keaslian rasa yang tidak tergantikan.

Kini, popularitas sate Danguang-Danguang juga semakin meluas berkat media sosial. Banyak orang yang sebelumnya tidak mengenal kuliner ini menjadi penasaran setelah melihat foto dan video yang beredar di internet. Bahkan, tidak sedikit wisatawan yang memasukkan Payakumbuh ke dalam daftar kunjungan mereka hanya untuk mencicipi sate ini secara langsung.

Saat malam tiba, warung-warung sate semakin ramai. Lampu-lampu sederhana menerangi meja kayu tempat para pelanggan berkumpul. Tawa, obrolan, dan aroma sate berpadu menjadi satu, menciptakan suasana hangat yang sulit dilupakan.

Sate Danguang-Danguang bukan sekadar makanan. Ia adalah cerita tentang tradisi, perjalanan, dan rasa yang menyatukan banyak orang. Di setiap tusuknya, tersimpan jejak budaya Minangkabau yang terus hidup, dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dan selama asapnya masih mengepul di sudut-sudut Payakumbuh, selama itu pula sate Danguang-Danguang akan tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas kuliner daerah ini.





Penulis             : Nur Aisyah Rahmadani Tanjung  – 3A D4 Bahasa Inggris untuk KBP

Editor              : Divia Putri Zen – 3B D4 Bahasa Inggris untuk KBP

 


Previous Post Next Post