Dari Kampus ke Kebijakan: Simposium Pendidikan Sumbar 2026 Buka Ruang Aspirasi

Foto: Facebook Irwan Prayitno



Simposium Pendidikan Sumatera Barat 2026 yang digelar oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Adzkia dihadiri berbagai kalangan Untuk membahas kondisi pendidikan saat ini. Kegiatan ini berlangsung di Adzkia Convention Center, Kota Padang, pada 5 Maret 2026 dengan mengusung tema transformasi pendidikan menuju Generasi Emas 2045.

Forum ini menghadirkan sejumlah tokoh penting di bidang pendidikan dan kebijakan publik, di antaranya Prof. Dr. Irwan Prayitno, M.Sc sebagai tokoh pendidikan nasional sekaligus Rektor Universitas Adzkia, Arry Yuswandi, SKM., M.KM selaku Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Barat, Dr. Alfroki Martha, M.Pd dari Dewan Pendidikan Sumatera Barat, serta Sri Kumala Dewi, S.Pd.I dari Komisi V DPRD Provinsi Sumatera Barat. Selain itu, hadir pula Muzammil Ihsan sebagai Koordinator Pusat BEM SI dan Iranto selaku Koordinator Isu Pendidikan BEM SI yang menyuarakan berbagai persoalan pendidikan di tingkat nasional dan daerah.

Salah satu sorotan utama dalam simposium ini adalah tema “Gelap Gulita Pendidikan Indonesia” yang menyoroti berbagai keresahan terhadap berbagai persoalan mendasar dalam sistem pendidikan, khususnya di Sumatera Barat. Forum ini mengungkap masih adanya ketimpangan akses dan kualitas pendidikan di sejumlah daerah, terutama di daerah-daerah yang belum mendapatkan fasilitas memadai.

Ketua pelaksana kegiatan, Haikal Fawzan Ramansyah, menegaskan bahwa simposium ini  menjadi wadah diskusi penting dalam merumuskan gagasan strategis.

“Simposium ini menjadi ruang bagi mahasiswa dan para pemangku kebijakan untuk menyampaikan aspirasi serta merumuskan gagasan yang nantinya akan menjadi bahan kajian dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional,” ujarnya, dilansir dari laman Adzkia.

Dalam forum tersebut, peserta juga mendorong pemerintah agar menjadikan sektor pendidikan sebagai prioritas utama dalam kebijakan pembangunan. Salah satu rekomendasi yang disampaikan adalah pentingnya penguatan anggaran pendidikan, khususnya untuk meningkatkan kesejahteraan guru honorer, dosen, dan tenaga pendidik lainnya.

Presiden Mahasiswa UPI YPTK Padang, Putra Al Kahfi Harahap, turut menyoroti kondisi di lapangan.

“Di beberapa daerah masih ditemukan sekolah yang tidak memiliki sarana belajar yang memadai, bahkan meja dan bangku yang layak untuk kegiatan belajar mengajar,” ujarnya.

Selain itu, penggunaan tagar #GelapGulitaPendidikanIndonesia mencuat sebagai simbol keresahan mahasiswa terhadap ketimpangan pendidikan. Tagar ini menjadi bentuk kritik sekaligus ajakan untuk meningkatkan perhatian terhadap sektor pendidikan.

Simposium ini juga menghasilkan kesepakatan bersama antara mahasiswa dan akademisi untuk mendorong transformasi pendidikan yang lebih adil dan berkualitas. Berbagai gagasan yang dihimpun dari organisasi mahasiswa, termasuk BEM SI Wilayah Sumatera Barat dan BEM UPI YPTK Padang, akan dirumuskan menjadi naskah rekomendasi kebijakan bagi pemerintah daerah.

Melalui forum ini, peserta berharap agar suara yang disampaikan tidak berhenti pada diskusi semata, namun dapat diwujudkan melalui langkah nyata demi memperbaiki kualitas pendidikan di Sumatera Barat sebagai bagian dari upaya menuju Indonesia Emas 2045.

 


Jenis Berita     : Soft News

Penulis            : Ayu Putri Jamalia – 3B D4 Bahasa Inggris untuk KBP

Editor             : Rahma Aurella – 3A D4 Bahasa Inggris untuk KBP

 

Previous Post Next Post