Frendy
Prima Yendri berpose menunjukkan medali emas usai meraih juara pertama pada
ajang Pekan Olahraga dan Seni Nasional (Porseni) di Malang, Jawa Timur,
November 2024.
Foto:
Frendy Prima Yendri
CREWPERS.ID –
Bagi sebagian orang, pencak silat mungkin hanya terlihat sebagai olahraga bela
diri. Namun, bagi Frendy Prima Yendri, yang lahir di Padang pada 24 Juli 2004,
pencak silat merupakan perjalanan panjang yang membentuk dirinya, bukan hanya
secara fisik, tetapi juga mental dan karakter. Saat ini, ia merupakan mahasiswa
Politeknik Negeri Padang, Jurusan Teknik Sipil. Ketertarikannya terhadap pencak
silat mulai tumbuh sejak usia remaja, ketika ia masih duduk di bangku SMP.
Awalnya, ketertarikannya
muncul dari hal sederhana, melihat
latihan di lingkungan sekitar. Dari situ, rasa penasaran berubah menjadi
ketertarikan yang lebih dalam. Ia mulai menyadari bahwa pencak silat bukan
hanya tentang gerakan atau teknik, tetapi juga mengandung nilai budaya,
disiplin, dan pembentukan karakter. Sejak saat itu, Frendy memutuskan untuk
menekuni pencak silat dengan lebih serius.
Perjalanan awalnya
sebagai atlet tidak lepas dari proses yang bertahap. Ia memulai dari latihan
dasar seperti kuda-kuda, pukulan, dan tendangan. Rutinitas latihan menjadi
bagian penting dalam kehidupannya. Selain itu, ia juga aktif mengikuti berbagai
kejuaraan tingkat kecil untuk menambah pengalaman. Dari setiap pertandingan,
Frendy belajar banyak hal baik
dari kemenangan maupun kekalahan.
Namun, perjalanan
tersebut tidak selalu berjalan mulus. Salah satu tantangan terbesar yang ia
hadapi adalah menjaga konsistensi. Rasa lelah, baik secara fisik maupun mental,
sering kali menjadi hambatan. Di sisi lain, ia juga harus membagi waktu antara
latihan, pendidikan, dan kehidupan pribadi. Kondisi ini menuntutnya untuk lebih
disiplin dan bertanggung jawab terhadap setiap pilihan yang diambil.
Salah satu pengalaman
yang paling membekas terjadi saat ia mengalami kekalahan dalam pertandingan di
Jakarta pada tahun 2025. Saat itu, Frendy merasa telah mempersiapkan diri
dengan maksimal, tetapi hasil yang diterima justru tidak sesuai harapan. Ia
bahkan merasa adanya ketidakadilan dalam pertandingan tersebut. Meski begitu,
pengalaman tersebut tidak membuatnya berhenti.
“Saya merasa dicurangi
saat bertanding di Jakarta tahun 2025, tapi dari situ saya belajar bahwa mental
sama pentingnya dengan strategi bertanding,” ungkap Frendy.
Dari peristiwa tersebut,
ia mulai memahami bahwa menjadi atlet tidak hanya soal kemampuan fisik, tetapi
juga kekuatan mental dalam menghadapi tekanan dan kekecewaan. Ia belajar untuk
lebih bijak dalam menilai, memperbaiki kekurangan, dan tidak cepat merasa puas
dengan pencapaian yang ada.
Di balik pengalaman pahit
yang pernah ia alami, Frendy Prima Yendri justru mampu bangkit dan menorehkan
berbagai prestasi membanggakan dalam perjalanan kariernya di dunia pencak
silat. Ia berhasil meraih Juara II Kelas B Putra pada Kejuaraan Daerah Pencak
Silat se-Sumatera Barat yang digelar di Solok Selatan pada 19–22 Juni 2022.
Perjuangannya terus berlanjut hingga membuahkan hasil gemilang dengan meraih
medali emas sebagai juara pertama pada ajang Pekan Olahraga dan Seni Nasional
(Porseni) di Malang, Jawa Timur, pada November 2024.
Tak berhenti di tingkat
nasional, ia juga sukses mengharumkan nama daerah di kancah internasional
dengan meraih medali perak pada 5th Open Cekak Harimau Silat International
Tournament di Malaysia pada 2025 setelah melalui proses latihan yang panjang
dan penuh tantangan. Rangkaian prestasi tersebut menjadi bukti nyata bahwa
kerja keras dan dedikasi yang ia lakukan tidak sia-sia, sekaligus menjadi
kebanggaan bagi dirinya, pelatih, dan keluarga.
Dalam kesehariannya,
Frendy menjalani rutinitas latihan yang cukup intens. Ia melakukan latihan
fisik seperti lari, latihan kekuatan, dan kelincahan, yang kemudian dilanjutkan
dengan latihan teknik dan sparring. Selain itu, ia juga menjaga pola
makan dan istirahat untuk menjaga kondisi tubuh tetap optimal. Konsistensi
menjadi kunci utama dalam menjaga performanya sebagai atlet.
Peran pelatih dan
keluarga juga sangat berpengaruh dalam perjalanan Frendy. Pelatih tidak hanya
membimbingnya dalam teknik, tetapi juga membantu membangun mental bertanding.
Sementara itu, dukungan keluarga menjadi sumber semangat yang membuatnya tetap
bertahan, bahkan di saat-saat sulit.
Seperti atlet pada
umumnya, Frendy juga pernah berada di titik ingin menyerah. Namun, ia selalu
kembali mengingat tujuan awalnya serta dukungan dari orang-orang terdekat. Hal
tersebut menjadi alasan utama mengapa ia terus melangkah hingga saat ini.
Bagi Frendy, pencak silat
bukan sekadar olahraga. Lebih dari itu, pencak silat adalah proses pembentukan
diri tentang disiplin, menghargai setiap
proses, dan belajar mengendalikan diri. Ia
berharap dapat terus berkembang dan meraih prestasi yang lebih tinggi, baik di
tingkat daerah, nasional, maupun internasional, sekaligus menginspirasi orang
lain untuk mencintai pencak silat.
Jenis Berita: Feature
Jurnalis: Sherlina
Dwi Putri – 3A D4 Bahasa Inggris untuk KBP
Editor: Regina
Putri – 3A D4 Bahasa Inggris untuk KBP
