![]() |
| Sumber : Fahrul |
Semangat dan tekad kuat menjadi kunci utama bagi
Fahrul dalam menapaki perjalanan sebagai atlet pencak silat. Mahasiswa Program
Studi D3 Teknik Mesin di Politeknik Negeri Padang ini tidak hanya fokus pada
dunia akademik, tetapi juga konsisten mengembangkan diri di cabang olahraga
bela diri tradisional Indonesia tersebut. Di tengah kesibukan perkuliahan dan
berbagai aktivitas kampus, Fahrul tetap meluangkan waktu untuk berlatih demi
mengasah kemampuan serta mempertahankan performanya sebagai atlet.
|
Prestasi Fahrul pun tidak bisa dipandang sebelah mata.
Ia berhasil meraih medali perak pada cabang olahraga pencak silat kelas tanding
E putra (65–70 kg) dalam ajang PORSENI XIV Politeknik Se-Indonesia.
Keberhasilan tersebut menjadi salah satu pencapaian penting dalam perjalanan
kariernya sebagai atlet. Selain itu, Fahrul juga mencatatkan prestasi di
tingkat daerah melalui Kejuaraan Provinsi Sumatera Barat tahun 2025. Berbagai
pencapaian tersebut menunjukkan bahwa kerja keras dan dedikasinya selama ini
tidak sia-sia. Fahrul, pemuda asal Payakumbuh, mulai mengenal pencak
silat sejak tahun 2020 saat masih duduk di bangku kelas 1 SMK. Ketertarikannya
pada olahraga ini bermula dari alasan yang sederhana. Saat itu, ia ingin
bergabung dengan salah satu organisasi di sekolah yang mensyaratkan kemampuan
bela diri bagi para anggotanya. Keinginan tersebut kemudian membawanya mengenal
dunia pencak silat dan bergabung dengan perguruan Satria Muda Indonesia. “Awalnya saya tertarik karena ingin ikut organisasi di
sekolah yang mewajibkan kemampuan bela diri. Dari situ saya mulai serius
menekuni pencak silat di perguruan Satria Muda Indonesia,” ujar Fahrul. Seiring berjalannya waktu, ketertarikan tersebut
berkembang menjadi sebuah passion yang kuat. Fahrul mulai menjalani latihan
secara rutin dan disiplin. Ia tidak hanya berlatih teknik bertanding, tetapi
juga meningkatkan kekuatan fisik, ketahanan tubuh, serta mental bertanding.
Proses latihan yang panjang tentu tidak selalu berjalan mulus. Ia harus
menghadapi berbagai tantangan, mulai dari menjaga konsistensi latihan,
menghadapi kelelahan fisik, hingga risiko cedera yang kerap mengintai atlet
bela diri. Selain itu, Fahrul juga harus pandai membagi waktu
antara kewajiban sebagai mahasiswa dan tanggung jawabnya sebagai atlet. Jadwal
kuliah yang padat sering kali membuatnya harus mencari waktu tambahan untuk
berlatih. Meski demikian, ia tetap berusaha menjalani keduanya dengan seimbang
agar prestasi akademik dan olahraga dapat berjalan beriringan. Tantangan yang lebih besar sempat ia rasakan ketika
menjalani aktivitas di luar negeri, tepatnya di China. Berada jauh dari
lingkungan latihan dan rekan satu tim membuatnya harus beradaptasi dengan
situasi yang berbeda. Dalam kondisi tersebut, Fahrul berusaha tetap menjaga
performa dengan berlatih secara mandiri. Disiplin dan komitmen menjadi modal
utama baginya untuk tetap mempertahankan kemampuan meski berada jauh dari
tempat latihan biasa. Kerja keras dan disiplin yang ia jalani akhirnya
membuahkan hasil. Medali perak yang berhasil diraihnya menjadi bukti nyata dari
proses panjang yang penuh perjuangan. Bagi Fahrul, momen tersebut menjadi
pengalaman yang sangat berharga sekaligus motivasi untuk terus berkembang. “Saya merasa sangat bangga dan bersyukur ketika
berhasil meraih medali. Itu jadi bukti dari kerja keras dan latihan yang saya
jalani,” tuturnya. Namun bagi Fahrul, pencapaian tersebut bukanlah akhir dari perjalanan. Ia justru menjadikannya sebagai langkah awal untuk meraih prestasi yang lebih tinggi di masa depan. Ia berharap dapat terus meningkatkan kemampuan sekaligus mengharumkan nama kampus dan daerah asalnya melalui berbagai kompetisi yang akan datang. Perjalanan Fahrul membuktikan bahwa kesungguhan dan konsistensi mampu membawa seseorang melampaui batas. Dari langkah sederhana di bangku sekolah hingga meraih prestasi di tingkat nasional, ia menunjukkan bahwa mimpi dapat diraih dengan usaha yang tak kenal lelah. Kisahnya juga menjadi inspirasi bagi generasi muda agar berani mencoba, bekerja keras, dan tidak mudah menyerah dalam mengejar apa yang mereka cita-citakan. |
Jurnalis: Faidi Julio Ricardo –
3B D4 Bahasa Inggris untuk KBP
Editor:
Regina
Putri – 3A D4 Bahasa Inggris untuk KBP
