Olahraga Badminton Jadi Pilihan Mahasiswa sebagai Pelepas Penat Usai Kuliah

Mahasiswa bermain bulu tangkis di Lapangan Queen Sport, Limau Manis, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Sumatera Barat, Rabu (29/4/2026).

Foto: Salsabila Khalisah / Crewpers 



CREWPERS.ID – Di tengah padatnya jadwal perkuliahan, tugas yang menumpuk, serta tekanan akademik yang tak kunjung reda, mahasiswa mencari cara untuk menjaga keseimbangan hidup. Salah satu kegiatan yang kini semakin digemari adalah bermain badminton selepas perkuliahan. Olahraga yang sederhana namun menyenangkan ini menjadi pilihan banyak mahasiswa untuk melepas penat sekaligus menjaga kebugaran tubuh.

Aktivitas ini terlihat jelas di Lapangan Queen Sport, sebuah lapangan badminton yang lokasinya tidak jauh dari gerbang Universitas Andalas. Setiap sore hingga malam hari, lapangan ini hampir tidak pernah sepi dari mahasiswa yang datang, baik secara berkelompok maupun individu. Dengan raket di tangan dan penuh semangat, mereka memanfaatkan waktu luang untuk berolahraga sambil bersosialisasi.

Lapangan Queen dikenal memiliki fasilitas yang nyaman dan memadai. Permukaan lapangan yang terawat, pencahayaan yang cukup terang, serta suasana yang bersih membuat para pemain merasa betah berlama-lama. Tidak hanya itu, suasana yang santai dan tidak terlalu formal menjadikan tempat ini cocok untuk semua kalangan, baik pemula maupun yang sudah berpengalaman.

Seperti yang diungkapkan oleh Annisa Maharani (22), mahasiswi Jurusan Bahasa Inggris Politeknik Negeri Padang, badminton menjadi pelarian dari rutinitas yang melelahkan.

“Biasanya setelah kuliah atau saat tidak ada jadwal, saya dan teman-teman langsung ke sini. Selain sehat, kami juga bisa refreshing,” ujarnya. Aktivitas ini tidak hanya memberikan manfaat fisik, tetapi juga membantu menjaga kesehatan mental di tengah tekanan akademik.

Menariknya, kegiatan bermain badminton ini juga menjadi cara mempererat hubungan pertemanan. Banyak mahasiswa dari berbagai jurusan saling mengenal karena sering bertemu di lapangan. Tanpa disadari, interaksi yang terjalin di sela-sela permainan menciptakan lingkungan sosial yang positif dan suportif.

Selain itu, biaya yang relatif terjangkau menjadi salah satu alasan olahraga ini diminati. Mahasiswa tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk menikmati fasilitas yang ada. Cukup dengan menyewa lapangan secara patungan, mereka sudah bisa bermain selama beberapa jam.

Hal ini juga disampaikan oleh Sugesti Hasanah (21), mahasiswi Jurusan Bahasa Inggris Politeknik Negeri Padang, “Karena mainnya ramai-ramai, kami bisa patungan untuk menyewa lapangan. Kami bisa bermain berjam-jam, tetapi biayanya tidak sampai Rp20.000,” ujarnya. Hal ini menjadi solusi hiburan yang ramah di kantong mahasiswa.

Di sisi lain, meningkatnya minat mahasiswa terhadap badminton juga berdampak positif bagi pengelola lapangan. Lapangan Queen menjadi lebih hidup dengan adanya aktivitas rutin dari para mahasiswa. Bahkan, tidak jarang diadakan pertandingan kecil antarkelompok yang menambah semarak suasana.

Kehadiran tempat seperti Lapangan Queen menunjukkan pentingnya ruang olahraga yang mudah diakses oleh mahasiswa. Tidak hanya sebagai sarana rekreasi, tetapi juga sebagai wadah untuk menjaga kesehatan dan membangun relasi sosial. Dalam kehidupan kampus yang serba cepat, keberadaan tempat seperti ini menjadi ruang yang membantu menjaga keseimbangan.    

Dengan semakin banyaknya mahasiswa yang menyadari pentingnya menjaga kesehatan fisik dan mental, olahraga seperti badminton diperkirakan akan terus menjadi pilihan. Lapangan Queen pun akan tetap menjadi saksi semangat mahasiswa dalam mencari kebahagiaan sederhana di sela-sela kesibukan.

Pada akhirnya, di balik setiap pukulan shuttlecock dan tawa yang terdengar di lapangan, tersimpan cerita tentang bagaimana mahasiswa menikmati hidup di tengah tekanan. Sebuah pengingat bahwa kebahagiaan bisa ditemukan dari hal-hal sederhana, seperti bermain badminton bersama teman.

 

Jenis berita: Softnews 

Jurnalis: Salsabila Khalisah – 3A D4 Bahasa Inggris untuk KBP

Editor: Regina Putri – 3A D4 Bahasa Inggris untuk KBP

 

 

Previous Post Next Post