![]() |
Jurnalis
melakukan wawancara dengan narasumber di gedung AB Politeknik Negeri Padang,
Rabu (15 April 2026).
|
Foto: Nafhizah Nabila Helma Putri / Crewpers |
CREWPERS.ID - Bagi sebagian
mahasiswa Politeknik Negeri Padang (PNP), pagi hari menjadi waktu yang
menantang. Jadwal perkuliahan yang dimulai pukul 07.30 WIB membuat mahasiswa
harus mengatur waktu dengan baik agar dapat tiba di kampus tepat waktu. Dalam
situasi tersebut, sarapan sering kali menjadi hal yang terabaikan.
Di tengah padatnya aktivitas
kuliah dan praktikum, sarapan sebenarnya memiliki peran penting sebagai sumber
energi awal sebelum memulai perkuliahan. Namun, keterbatasan waktu persiapan
serta jarak tempuh menuju kampus yang tidak selalu dapat diprediksi membuat
sebagian mahasiswa memilih untuk berangkat tanpa makan pagi.
Kondisi ini umumnya terjadi
ketika mahasiswa memiliki waktu persiapan yang terbatas di pagi hari, sehingga
harus memilih antara sarapan atau segera berangkat agar tidak terlambat
mengikuti perkuliahan.
"Saya sering berangkat dalam
keadaan perut kosong karena harus mengejar angkot pagi agar tidak terlambat
masuk kelas pukul 07.30," ujar Dinda Yulia (21), seorang mahasiswa
Politeknik Negeri Padang jurusan Bahasa Inggris. Menurutnya, rasa lapar
biasanya baru terasa saat jam istirahat pertama, namun terkadang konsentrasinya
sudah menurun sejak tengah pelajaran dimulai.
Hal serupa juga disampaikan oleh
Karina Maharani (21), mahasiswa Politeknik Negeri Padang Jurusan Bahasa
Inggris, yang merasakan dampak fisik akibat pola makan yang tidak teratur ini.
"Kalau sudah telat bangun sedikit saja, pilihan saya cuma satu: mandi
cepat atau sarapan. Biasanya sarapan yang saya korbankan supaya tidak ketinggalan
materi praktikum," ungkap Karina.
Fenomena ini menunjukkan bahwa
sarapan belum sepenuhnya menjadi prioritas di kalangan mahasiswa, terutama
ketika dihadapkan pada tuntutan waktu. Padahal, bagi mahasiswa yang dituntut
memiliki konsentrasi tinggi sejak pagi, asupan nutrisi bukan sekadar pengganjal
perut, melainkan sumber energi utama bagi tubuh dan otak. Menurut Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia (KEMENKES), sarapan berperan penting sebagai
sumber energi setelah tubuh tidak mendapatkan asupan selama tidur malam. Asupan
ini membantu menjaga konsentrasi dan produktivitas dalam menjalani aktivitas,
termasuk kegiatan perkuliahan.
Tanpa sarapan, tubuh cenderung
kekurangan energi yang dibutuhkan untuk berpikir dan beraktivitas. Kondisi ini
dapat membuat mahasiswa lebih cepat merasa lelah, sulit berkonsentrasi, hingga
mengalami pusing saat mengikuti perkuliahan. Hal ini menjadi penting untuk
diperhatikan, mengingat aktivitas perkuliahan tidak hanya menuntut kesiapan
mental, tetapi juga kondisi fisik yang prima, terutama pada kegiatan praktikum.
Mahasiswa tetap memiliki peluang
untuk membiasakan sarapan tanpa harus mengorbankan ketepatan waktu kehadiran di
kelas. Sarapan dapat dilakukan dengan cara sederhana, seperti menyiapkan
makanan praktis, makan lebih awal, atau membawa bekal yang dapat dikonsumsi di
perjalanan menuju kampus.
Penulis : Maisyah Saidah – 3A D4 Bahasa Inggris KBP
Editor : Delia Novitri Delin – 3A D4 Bahasa Inggris KBP
