Perjalanan Nazwa Maulydia Utari, Mahasiswa Bahasa Inggris PNP di Dunia Tenis Meja

 

Sumber : Nazwa Maulydia Utari 

Nazwa Maulydia Utari, mahasiswa Program Studi Bahasa Inggris Politeknik Negeri Padang (PNP) sekaligus atlet tenis meja asal Padang yang lahir pada 9 April 2006, telah menekuni olahraga ini sejak kelas 5 sekolah dasar. Perjalanannya di dunia tenis meja tidak selalu berjalan dengan mulus. Ia mengaku latihannya tidak terlalu rutin karena harus menyesuaikan dengan kegiatan sekolah, sehingga intensitas latihan sering tidak konsisten.

Dalam perjalanannya sebagai atlet, Nazwa menghadapi tantangan terbesar ketika prestasinya sempat mengalami penurunan. Meskipun sudah berlatih dengan keras, ia belum berhasil menembus level provinsi sebagai perwakilan utama. Selama ini, ia hanya mampu bertahan di tingkat kota, dengan pencapaian terbaik di posisi juara tiga.

Kondisi tersebut sempat membuatnya mempertanyakan dirinya sendiri. Ia pernah merasa bahwa tenis meja bukanlah passion-nya. Di sisi lain, ia juga menyadari bahwa dirinya dulu terlalu ambisius dan selalu ingin menjadi juara. Namun, ambisi tersebut perlahan runtuh ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa hasil yang ia capai belum sesuai harapan.

Seiring waktu, cara pandangnya terhadap pertandingan mulai berubah. Ia tidak lagi bermain dengan tekanan untuk selalu menang. Ketika ambisi itu mulai berkurang, permainannya justru terasa lebih lepas dan berkembang. “Setelah saya tidak lagi terlalu ambisius, justru saya bisa bermain dengan lebih baik,” ujarnya.

Pengalaman bertanding yang cukup banyak, baik di tingkat kota maupun provinsi, turut membentuk mentalnya. Ia tercatat pernah mewakili Kota Padang dalam Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Sumatera Barat di Payakumbuh pada 2024 dan berhasil meraih juara tiga. Prestasi yang sama kembali ia raih pada Kejurprov Sumatera Barat 2025 di Bukittinggi saat kembali dipercaya mewakili Kota Padang.

Dari sekian banyak pertandingan, salah satu yang paling berkesan baginya adalah pada saat kegiatan Pekan Kreativitas Teknologi, Olahraga, dan Seni (PKTOS) Genap 2025 yang diadakan di Politeknik Negeri Padang. Dalam ajang tersebut, ia berhasil mengalahkan lawan yang selama ini selalu mengalahkannya di tingkat provinsi. Kemenangan itu menjadi momen yang tidak terduga sekaligus membuktikan bahwa ia mampu melewati batas yang selama ini terasa sulit.

Dalam pertandingan, Nazwa menyadari bahwa faktor mental memiliki peran yang sangat penting. Ia berusaha untuk tidak terlalu terbawa emosi, karena hal tersebut justru bisa membuatnya kehilangan kontrol dalam bermain. Untuk menjaga fokus, ia biasanya melakukan hal-hal sederhana seperti melompat-lompat kecil sambil mengatur napas, serta memanfaatkan waktu jeda untuk menenangkan diri.

Di balik penampilannya di lapangan yang terlihat penuh semangat, Nazwa justru mengaku bahwa ia bukan tipe atlet yang disiplin dalam latihan. Ia hanya berlatih sekitar dua hingga tiga kali dalam seminggu, bahkan terkadang tidak berlatih sama sekali. Hal ini membuatnya menyadari bahwa saat bertanding ia tidak hanya mengandalkan latihan, tetapi juga kekuatan mental yang terbentuk dari pengalaman.

Kini, Nazwa tidak lagi memiliki ambisi besar untuk menjadi juara. Ia memilih untuk menjalani tenis meja dengan cara yang lebih santai dan realistis. Baginya, tetap bisa bermain dan dikenal di kalangan pecinta tenis meja sudah menjadi tujuan yang cukup.

Kisah Nazwa Maulydia Utari menunjukkan bahwa perjalanan seorang atlet tidak selalu tentang pencapaian tertinggi. Ada proses jatuh, ragu, dan menerima diri sendiri yang juga menjadi bagian penting. Dalam perjalanannya, justru ketika ambisi itu dilepaskan, ia mampu menemukan cara bermain yang lebih baik dan lebih jujur terhadap dirinya sendiri.





Jurnalis: Sherlina Dwi Putri – 3A D4 Bahasa Inggris untuk KBP


Editor: Regina Putri – 3A D4 Bahasa Inggris untuk KBP


Previous Post Next Post