![]() |
Ilustrasi seorang perempuan yang tidur menggunakan
kipas angin.
|
Foto: Ilustrasi (Pinterest) |
CREWPERS.ID — Di tengah cuaca yang panas, penggunaan kipas angin
saat tidur menjadi kebiasaan yang umum dilakukan banyak orang, terutama
mahasiswa dan penghuni kos. Selain lebih hemat dibandingkan pendingin ruangan,
kipas angin dianggap membantu tubuh merasa lebih sejuk sehingga lebih mudah
terlelap. Namun, apakah tidur dengan kipas angin menyala semalaman benar-benar
aman bagi kesehatan.
Pertanyaan ini menjadi perdebatan yang umum di
kalangan masyarakat. Sebagian berpendapat bahwa tidur dengan kipas angin dapat
menyebabkan masuk angin atau flu, sementara sebagian lainnya justru merasa
penggunaannya membantu meningkatkan kualitas tidur.
Menurut kajian kesehatan yang dimuat oleh GoodRx,
penggunaan kipas angin saat tidur pada dasarnya tidak secara langsung
menyebabkan seseorang sakit. Namun, aliran udara yang terus-menerus dapat
membuat hidung, tenggorokan, dan kulit menjadi lebih kering. Selain itu, kipas
juga dapat menyebarkan debu dan alergen di ruangan yang berpotensi menimbulkan
ketidaknyamanan, terutama bagi orang yang memiliki alergi atau sensitivitas
terhadap debu.
Pengalaman berbeda dirasakan oleh Yasmine Zulfa
Humairah (22), mahasiswi tingkat akhir Jurusan Akuntansi. Menurutnya,
penggunaan kipas angin saat tidur perlu disesuaikan dengan posisi dan kekuatan
angin agar tidak menimbulkan efek yang tidak nyaman.
“Kalau kipas terlalu kencang terus kena kepala atau
wajah, aku kadang sesak napas karena anginnya kena langsung ke wajah. Kadang
juga kalau anginnya terlalu kencang jadi masuk angin dan sakit perut,” ujarnya.
Karena pengalaman itu, Yasmine mengaku mulai mengubah
cara menggunakan kipas anginnya.
“Biasanya aku pakai kipas arahnya dari kaki sampai
pinggang saja, atau diarahkan ke dinding. Kalau memang lagi panas sekali baru
diarahkan ke badan, itu pun tidak lama, hanya sampai tidak terlalu panas lagi,” tambahnya.
Pengalaman serupa juga disampaikan Desvita Putri (22),
mahasiswi Jurusan Teknologi Informasi. Ia mengaku tetap menggunakan kipas angin
saat tidur, tetapi merasakan perubahan kondisi tubuh saat bangun di pagi hari.
“Kalau efeknya buat aku, suhu tubuh terasa turun di
pagi hari dan badan jadi sedikit pegal,” katanya.
Keluhan seperti tubuh terasa lebih dingin, pegal, atau
tidak nyaman setelah tidur dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti suhu
ruangan, posisi tidur, arah angin, serta durasi paparan udara selama malam
hari. Pada beberapa orang, paparan udara dingin dalam waktu lama juga dapat
membuat otot terasa lebih tegang atau kaku saat bangun tidur, meski kondisi ini
tidak selalu berkaitan langsung dengan kipas angin semata.
Meski demikian, penggunaan kipas angin saat tidur
tetap dapat menjadi pilihan yang aman apabila dilakukan dengan bijak. Beberapa
langkah yang dapat dilakukan antara lain mengatur kecepatan kipas pada tingkat
sedang, menghindari arah angin langsung ke wajah atau kepala, menjaga
kebersihan baling-baling dan ruangan secara rutin agar debu tidak tersebar,
serta memanfaatkan fitur timer agar kipas tidak menyala sepanjang malam.
Pada akhirnya, penggunaan kipas angin saat tidur bukanlah kebiasaan yang otomatis membahayakan kesehatan. Dampaknya sangat bergantung pada kondisi tubuh masing-masing orang, kualitas udara di ruangan, dan cara penggunaannya. Menyesuaikan cara penggunaan dengan kondisi dan kebutuhan tubuh menjadi langkah sederhana agar kualitas istirahat tetap terjaga dengan baik.
Penulis : Meliza — 3A D4 Bahasa Inggris untuk KBP
Editor : Lega Ariski — 3B D4 Bahasa Inggris untuk
KBP
