Obat Warung: Solusi Cepat Mahasiswa Saat Sakit

Berbagai jenis obat warung tersusun di atas meja dalam kemasan blister dan plastik obat sebagai ilustrasi praktik swamedikasi mahasiswa.

Foto: Almer Farrel Ghifari/Crewpers



CREWPERS.ID Padatnya jadwal perkuliahan sering kali menuntut mahasiswa untuk memiliki kondisi fisik yang prima. Aktivitas kuliah, praktikum, organisasi, hingga tugas yang menumpuk membuat sebagian mahasiswa memilih cara cepat untuk mengatasi keluhan kesehatan ringan, seperti membeli obat di warung atau apotek tanpa terlebih dahulu berkonsultasi ke tenaga kesehatan.

Faktor ekonomi menjadi pertimbangan utama bagi mahasiswa, terutama mereka yang hidup di perantauan. Membeli selembar obat flu atau pereda nyeri di warung dianggap lebih ramah di kantong dibandingkan harus membayar biaya administrasi di klinik. Praktik pengobatan mandiri atau swamedikasi ini cukup sering dilakukan mahasiswa agar tetap bisa produktif tanpa harus mengantre lama di fasilitas pelayanan kesehatan.

Praktik swamedikasi ini cukup sering dilakukan untuk mengatasi keluhan ringan seperti sakit kepala, flu, demam, maag, hingga nyeri tubuh akibat kurang istirahat. Namun, penggunaan obat tanpa pengetahuan yang cukup tetap memiliki risiko kesehatan jika dilakukan secara sembarangan.

Berdasarkan Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dipublikasikan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, sebanyak 35,2 persen rumah tangga di Indonesia menyimpan obat untuk keperluan swamedikasi. Praktik pengobatan mandiri juga masih cukup tinggi hingga saat ini. Dalam artikel Kementerian Kesehatan RI tahun 2024 yang mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023, sebanyak 79,74 persen masyarakat Indonesia tercatat melakukan pengobatan sendiri.

Kementerian Kesehatan RI juga menyebutkan bahwa pemahaman masyarakat terkait penggunaan obat yang tepat masih tergolong rendah, termasuk penggunaan antibiotik tanpa resep dokter. Penggunaan antibiotik tanpa pengawasan tenaga medis dapat meningkatkan risiko resistensi bakteri, yaitu kondisi ketika antibiotik tidak lagi efektif untuk mengobati infeksi.

Selain antibiotik, penggunaan obat pereda nyeri secara sembarangan juga dapat menimbulkan efek samping tertentu. Kementerian Kesehatan RI dalam artikel “Yuk, gunakan obat anti nyeri dengan baik” tahun 2024 menjelaskan bahwa obat golongan NSAID, seperti ibuprofen dan asam mefenamat, dapat menimbulkan efek samping berupa gangguan lambung apabila digunakan tidak sesuai aturan.

Fito Oktodoni (22), seorang mahasiswa Politeknik Negeri Padang, mengaku bahwa ia sering mengandalkan obat-obatan warung untuk tetap bisa mengikuti jadwal kuliah.

"Kuliah di Politeknik ini jadwalnya sangat ketat, apalagi kalau ada praktikum yang tidak boleh absen. Kalau merasa tidak enak badan, saya lebih memilih langsung beli obat di warung dekat kos karena cepat dan murah. Rasanya jauh lebih praktis daripada harus menghabiskan waktu berjam-jam mengantre di klinik. Biasanya setelah minum obat warung, pusingnya hilang dan saya bisa lanjut mengerjakan laporan lagi," ujar Fito.

Fito juga mengaku bahwa ia jarang membaca label aturan pakai secara mendetail. Ia lebih sering mengikuti saran dari teman kos atau hanya menebak-nebak dosis yang pas. Meski dapat membantu meredakan keluhan ringan, penggunaan obat tanpa pengetahuan yang cukup tetap perlu diperhatikan. Jika gejala tidak membaik dalam beberapa hari atau kondisi tubuh semakin memburuk, pemeriksaan ke tenaga kesehatan menjadi langkah yang lebih aman.

Menghadapi tuntutan akademik memang tidak mudah, namun penggunaan obat warung secara terus-menerus tetap perlu disertai pemahaman mengenai penggunaan obat yang aman dan sesuai aturan. Jika gejala penyakit tidak membaik dalam tiga hari, mahasiswa bisa memanfaatkan fasilitas asuransi seperti BPJS atau poliklinik kampus.

Kementerian Kesehatan RI melalui program Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat (Gema Cermat), juga terus mengajak masyarakat untuk lebih memahami penggunaan obat yang aman dan rasional agar terhindar dari risiko penggunaan obat yang tidak tepat.

 


Penulis            : Maisyah Saidah – 3A D4 Bahasa Inggris KBP

Editor             : Delia Novitri Delin – 3A D4 Bahasa Inggris KBP

 

 

 

 

Previous Post Next Post