![]() |
Riko
Andrian AJ Putra (depan kanan) bersama tim dan pelatih usai mengikuti cabang
pencak silat pada Porseni XIV Politeknik se-Indonesia di Malang, Jawa Timur,
Juli 2024.
|
Foto:
Riko Andrian AJ Putra |
CREWPERS.ID
– Sejak tahun 2018, Riko Andrian AJ Putra
mulai menekuni pencak silat. Mahasiswa Jurusan Teknik Elektro Politeknik Negeri
Padang yang berusia 22 tahun itu mengaku telah mencoba berbagai cabang olahraga
sebelum akhirnya menemukan kenyamanan dalam dunia silat. Bagi Riko, pencak
silat bukan hanya tentang kemampuan bertanding, tetapi juga menjadi jalan untuk
membentuk pribadi yang lebih baik. Awal perjalanannya dimulai secara tidak
sengaja saat mengikuti ekstrakurikuler pencak silat di bangku SMP. Dari rasa
penasaran dan sekadar mencoba, Riko justru menemukan kenyamanan yang membuatnya
terus bertahan hingga sekarang. Ia merasa memiliki bakat dalam bidang tersebut
sehingga semakin serius menjalani latihan dan aktif mengikuti berbagai event
pertandingan.
Selama
menjadi atlet, Riko mendapatkan banyak pengalaman berharga yang mengubah cara
pandangnya terhadap kehidupan. Menurutnya, pencak silat mengajarkan kerendahan
hati, bukan untuk dibanggakan di depan orang lain. “Silat bukan diajarkan
untuk dibangga-banggakan, tapi bagaimana cara kita merendahkan diri di saat
banyak orang ingin menaikkan derajatnya di depan umum,” ujarnya. Meski
tidak pernah berpikir untuk menyerah, Riko mengakui rasa jenuh dalam latihan
tentu pernah datang. Namun, ia berusaha mencari cara agar tetap semangat dan
konsisten menjalani latihan. Salah satu tantangan terberat yang pernah
dihadapinya ialah saat harus menurunkan berat badan sebanyak enam kilogram
dalam waktu kurang dari dua minggu menjelang seleksi daerah.
Sebagai
atlet sekaligus mahasiswa Politeknik Negeri Padang, ia juga harus belajar
membagi waktu dengan baik. Untuk menjaga fokus, Riko memilih mengurangi waktu
bermain bersama teman dan lebih memusatkan perhatian pada satu kegiatan utama.
Menurutnya, kedisiplinan dalam mengatur waktu menjadi salah satu kunci penting
dalam perjalanan sebagai atlet.
Berbagai
prestasi berhasil ia raih selama menekuni pencak silat. Riko berhasil meraih
medali emas pada ajang PORSENI di kelas C 56–60 kilogram. Selain itu, ia juga
memperoleh medali perak pada Kejuaraan Porkot Padang (Pekan Olahraga Kota
Padang) yang diselenggarakan di UBH pada kelas B 51–55 kilogram, serta medali
emas pada Kejuaraan Sumbar–Riau–Jambi yang digelar di Universitas Andalas pada
kelas B 51–55 kilogram. Bagi Riko, pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa
proses latihan yang dijalani selama ini tidak sia-sia.
“Alhamdulillah
proses tidak mengkhianati hasil,” katanya.
Meski
demikian, kemenangan bukanlah tujuan utama baginya. Ia lebih memilih menjadikan
setiap pertandingan sebagai proses untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Dari setiap latihan dan pertandingan, ia belajar untuk terus bersungguh-sungguh
agar dapat mencapai hasil maksimal pada event berikutnya.
Latihan
yang dijalani tentu tidak mudah. Namun, latihan yang dilakukan secara
terus-menerus membuatnya terbiasa menghadapi rasa lelah. Dalam persiapan
pertandingan, ia menjaga kondisi fisik dengan pola makan yang baik, tidur
teratur, serta pandai membagi waktu. Cedera kecil seperti lebam dan bengkak di
tubuh juga menjadi hal yang biasa dialami selama berlatih. Di balik perjalanan
tersebut, sosok pelatih menjadi orang yang paling berpengaruh dalam hidupnya.
Menurut Riko, pelatihnya telah banyak membantu mengubah dirinya menjadi pribadi
yang lebih baik dan lebih terarah.
Baginya,
pencak silat bukan sekadar olahraga bela diri. Lebih dari itu, silat
mengajarkan cara mengontrol diri, menjaga sikap, dan mengatur kehidupan agar
tetap terarah. Ia merasa pencak silat berhasil mengubah dirinya yang dulu nakal
menjadi pribadi yang lebih baik. Momen paling mengharukan bagi Riko adalah ketika
melihat kedua orang tuanya merasa bahagia atas semua perjuangan yang telah ia
lalui. Kebahagiaan orang tua menjadi salah satu alasan terbesar yang membuatnya
tetap bertahan hingga saat ini.
Untuk
saat ini, Riko memilih untuk lebih fokus menyelesaikan kuliahnya. Meski begitu,
ia tetap ingin terus berlatih pencak silat di sela aktivitas lainnya. Di akhir
wawancara, Riko berpesan kepada generasi muda agar tidak takut memulai pencak
silat meskipun belum memiliki dasar. Menurutnya, semua orang memulai dari nol,
dan pencak silat bukan mengajarkan seseorang menjadi sok kuat, melainkan
mengajarkan cara mengontrol diri dan waktu agar hidup lebih teratur dan
terarah.
Jurnalis:
Aflah Nadirah Amnelia – 3A D4 Bahasa
Inggris untuk KBP
Editor:
Regina Putri – 3A D4 Bahasa Inggris
untuk KBP
