Petani Rentan Alami Kutu Air akibat Kondisi Sawah yang Lembap

Sejumlah petani menanam padi di area persawahan yang tergenang air di Kabupaten Solok.

 Foto: Dinda Yulia / Crewpers.



CREWPERS.ID — Aktivitas petani yang setiap hari berkutat dengan lumpur, genangan air sawah, serta kondisi lingkungan yang lembap membuat mereka rentan mengalami berbagai penyakit kulit. Salah satu penyakit yang paling sering dialami para petani adalah kutu air. Meski terlihat ringan, penyakit ini dapat mengganggu kenyamanan hingga menurunkan produktivitas saat bekerja di sawah.

Kutu air merupakan infeksi jamur pada kulit yang biasanya menyerang sela-sela jari kaki. Penyakit ini muncul akibat kondisi kaki yang terus-menerus lembap, jarang terkena udara, serta kurang terjaga kebersihannya setelah bekerja. Gejalanya berupa rasa gatal, kulit mengelupas, kemerahan, hingga muncul luka kecil yang terasa perih ketika terkena air.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2024) menyebutkan bahwa kondisi kaki yang terus-menerus lembap dapat memicu pertumbuhan jamur penyebab kutu air. Lingkungan basah seperti sawah membuat risiko infeksi jamur pada kaki menjadi lebih tinggi apabila kebersihan tidak terjaga dengan baik.

Bagi sebagian petani, kutu air sudah dianggap sebagai penyakit biasa yang sering muncul saat musim tanam. Namun, jika tidak segera diobati, infeksi jamur tersebut dapat menyebar dan menyebabkan luka yang lebih serius.

Marasih (52), seorang petani asal Nagari Sirukam, Kabupaten Solok mengaku sudah beberapa kali mengalami kutu air selama bekerja di sawah. Hampir setiap hari ia harus turun ke sawah sejak pagi hingga sore dengan kondisi kaki yang terus terendam air dan lumpur.

“Awalnya cuma terasa gatal di sela jari kaki. Saya pikir biasa saja karena memang sering kena air sawah. Tapi lama-lama kulitnya pecah dan terasa sakit kalau dipakai jalan,” ujar Marasih.

Marasih mengatakan dirinya sempat mengabaikan penyakit tersebut karena fokus bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, rasa gatal dan perih yang terus muncul membuat aktivitasnya terganggu. Bahkan, ia pernah kesulitan memakai sepatu bot karena luka di sela jarinya semakin parah.

“Kalau sudah luka, rasanya perih sekali saat kena air sawah. Kadang sampai tidak nyaman berdiri terlalu lama,” katanya.

Setelah merasakan kondisi yang semakin memburuk, Marasih akhirnya membeli salep antijamur di apotek terdekat. Ia juga mulai membiasakan diri mencuci kaki menggunakan sabun dan mengeringkannya setelah pulang dari sawah.

Pengalaman serupa juga dialami oleh Nuraini (60), petani perempuan yang setiap hari membantu suaminya mengurus sawah keluarga. Menurut Nuraini, penggunaan sepatu bot dalam waktu lama membuat kaki menjadi panas dan lembap sehingga mudah terkena jamur.

“Biasanya setelah seharian di sawah kaki jadi gatal, terutama di sela-sela jari. Kadang kulitnya berubah putih lalu mengelupas,” ujarnya.

Nuraini mengaku sempat merasa malu karena kondisi kakinya terlihat kurang sehat. Ia juga sering merasa tidak nyaman saat berjalan atau melakukan pekerjaan rumah setelah pulang dari sawah.

“Sekarang saya lebih rajin membersihkan kaki dan mengganti kaus kaki. Kalau dibiarkan, rasa gatalnya makin parah,” tambahnya.

Menurut tenaga kesehatan di puskesmas setempat, kasus kutu air memang cukup sering dialami masyarakat yang bekerja di lingkungan basah, termasuk petani. Kondisi sawah yang lembap menjadi tempat ideal bagi jamur untuk berkembang.

Petugas kesehatan menyarankan para petani agar menjaga kebersihan kaki setelah bekerja, menggunakan alas kaki yang bersih, serta memastikan kaki benar-benar kering sebelum memakai sepatu atau kaus kaki kembali. Selain itu, penggunaan obat antijamur diperlukan jika gejala mulai muncul agar infeksi tidak semakin parah.

Kutu air memang bukan penyakit mematikan, tetapi dampaknya cukup mengganggu aktivitas sehari-hari. Rasa gatal dan luka pada kaki dapat membuat petani kesulitan bergerak dengan nyaman saat bekerja di sawah. Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi produktivitas mereka, terutama ketika musim tanam dan panen tiba.

Melalui pengalaman yang dialami Marasih dan Nuraini, terlihat bahwa kesadaran menjaga kesehatan kulit dan kebersihan diri masih perlu ditingkatkan di kalangan petani. Hal sederhana seperti mencuci dan mengeringkan kaki setelah bekerja ternyata dapat membantu mencegah munculnya kutu air.

Di tengah pekerjaan berat yang harus dijalani setiap hari, kesehatan para petani menjadi hal penting yang tidak boleh diabaikan. Sebab, kaki yang sehat akan membantu mereka tetap kuat bekerja dan menjalankan aktivitas di sawah tanpa gangguan penyakit kulit yang berkepanjangan.

 


Penulis                       : Dinda Yulia – 3A D4 Bahasa Inggris KBP

Editor                        : Delia Novitri Delin – 3A D4 Bahasa Inggris KBP
 

Previous Post Next Post