![]() |
Shamid
Umran membagikan aktivitas workout melalui akun Instagram pribadinya dalam
challenge “Pull Up, Dips, and Squat for 365 Days”.
|
Foto:
Instagram @shamidumran |
CREWPERS.ID
– Bagi sebagian orang, workout
mungkin sekadar aktivitas untuk membentuk tubuh. Namun bagi Shamid Umran,
mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris di Politeknik Negeri Padang, olahraga justru
menjadi cara untuk mengubah dirinya, baik secara fisik maupun mental.
Lahir pada 15
November 2003, Shamid mulai serius menekuni dunia workout dan fitness
karena pengalaman pribadinya sendiri. Ia mengaku dulu merasa lemah, bukan
hanya secara fisik tetapi juga mental. Dari kondisi tersebut, ia mulai menjadikan
workout sebagai proses untuk memperkuat diri sekaligus membangun tubuh
yang sehat dan kuat.
Perjalanan itu
kemudian ia dokumentasikan melalui challenge “Pull Up, Dips, dan Squat for
365 Days”. Tantangan tersebut dibuat bukan hanya untuk menguji konsistensinya,
tetapi juga memperkenalkan weighted calisthenics yang menurutnya masih
belum terlalu populer di Indonesia. Dalam latihannya, Shamid mengadaptasi
metode latihan luar negeri, khususnya gaya Rusia dan Soviet, lalu
menyesuaikannya dengan kemampuannya sendiri.
Selama menjalani
latihan ratusan hari tanpa henti, tantangan terbesar yang ia rasakan adalah
membagi waktu dan tenaga. Weighted calisthenics dinilai sebagai latihan
yang cukup sulit untuk dilakukan sehingga membutuhkan fokus dan konsistensi tinggi.
Rasa lelah dan jenuh juga kerap muncul karena ia tidak pernah tahu seperti apa
hasil akhir dari proses latihan selama satu tahun tersebut.
Meski begitu,
Shamid memilih tetap menjalani prosesnya. “Kalau memang punya tujuan, kita
harus ngelakuin hal yang monoton dan membosankan. Ya itulah proses,” ujarnya.
Konsistensi latihan yang dijalani membuat Shamid mulai merasakan berbagai
perubahan. Secara fisik, massa otot dan kekuatannya meningkat. Dengan berat
badan sekitar 78 hingga 80 kilogram dan tinggi badan 165 sentimeter, ia kini
mampu melakukan pull up dan dips dengan tambahan beban 20 hingga
25 kilogram.
Tak hanya
perubahan fisik, perkembangan juga terlihat dari media sosialnya. Akun YouTube
miliknya yang awalnya tidak memiliki subscriber kini telah mencapai
lebih dari tiga ribu subscriber secara organik. Engagement di
Instagram pun meningkat cukup pesat selama ia rutin membagikan perjalanan workout-nya.
Namun,
perjalanan tersebut tidak selalu berjalan ideal. Sebagai anak kos dengan
kondisi ekonomi pas-pasan, Shamid mengaku belum mampu memenuhi kebutuhan
nutrisi secara maksimal. Ia mengatakan bahwa fondasi utama fitness terdiri
dari latihan, nutrisi, dan tidur, tetapi dirinya baru mampu memenuhi latihan
dan tidur saja.
Dengan
pengeluaran makan harian sekitar Rp15 ribu hingga Rp25 ribu, menu makan
sehari-harinya lebih banyak terdiri dari ayam geprek dan telur. Keterbatasan
fasilitas seperti tidak memiliki kulkas juga membuatnya kesulitan menyimpan
bahan makanan yang lebih menunjang kebutuhan nutrisi fitness.
Melalui konten
workout yang konsisten diunggah ke media sosial, Shamid ingin menunjukkan
realita fitness journey secara transparan. Ia menyoroti banyaknya orang
yang menampilkan hasil tubuh ideal secara instan, padahal proses membangun
tubuh secara natural membutuhkan waktu panjang, terlebih jika nutrisi belum
terpenuhi dengan baik.
Respon yang
diterima pun beragam. Banyak orang memberikan apresiasi atas konsistensinya
berlatih setiap hari, bahkan hingga rela mengorbankan waktu dan tenaga demi
tetap workout. Namun, tidak sedikit pula yang menghujat karena tubuhnya
dianggap belum memenuhi standar badan ideal seperti six pack dan tubuh
atletis.
Saat ini, target
utama Shamid adalah memulihkan cedera lower back yang dialaminya akibat
kesalahan program latihan dan kurangnya pengetahuan saat memulai workout secara
otodidak. Cedera tersebut membuatnya vakum dari media sosial selama lebih dari
satu bulan untuk fokus menjalani recovery.
Setelah pulih,
ia berharap dapat kembali melanjutkan perjalanan workout sekaligus
menyelesaikan kuliahnya hingga wisuda. Ia juga berpesan kepada mahasiswa yang
ingin mulai olahraga agar mencari lingkungan atau teman dengan tujuan yang sama
supaya lebih mudah menjaga konsistensi dalam berlatih.
Jurnalis:
Sherlina Dwi Putri – 3A D4 Bahasa
Inggris untuk KBP
Editor:
Regina Putri – 3A D4 Bahasa Inggris
untuk KBP
