Ikan
bakar bumbu merah khas Pariaman dibakar menggunakan bara tempurung kelapa, Rabu
(13 Mei 2026).
Foto: Sarah Nurisma / Crewpers
CREWPERS.ID
— Jika ada satu aroma yang mampu
mendefinisikan garis pantai Kota Pariaman, itu adalah aroma gurih dari ikan
yang terpanggang di atas bara tempurung kelapa. Di sepanjang pesisir Pantai
Gandoriah hingga Pantai Kata, kepulan asap putih yang membawa wangi rempah
menjadi pemandangan harian yang selalu berhasil menghentikan langkah para
wisatawan. Di sini, ikan bakar bukan sekadar menu makan siang, tapi juga
menjadi identitas kuliner yang menyatukan hasil laut segar dengan kekayaan
rempah Minangkabau.
Sebagai kota pesisir, akses terhadap bahan baku
utama adalah kunci. Ikan-ikan yang digunakan, mulai dari jenis Kerisi, Kerapu,
Bawal Laut, hingga Kakap, didapat langsung dari hasil tangkapan nelayan lokal
yang merapat di dermaga setiap pagi.
Kesegaran ini menjadi fondasi utama. Daging ikan
yang masih segar dan kenyal tidak membutuhkan banyak manipulasi kimiawi. Ikan
di sini tidak masuk lemari es berhari-hari. Begitu naik dari kapal, langsung
dibersihkan dan masuk ke bumbu. Itu rahasia kenapa dagingnya tetap lembut dan
tidak hancur saat dibakar.
"Kalau ke Pariaman, saya pasti cari ikan bakar.
Alasannya sederhana saja, saya tahu ikannya pasti baru ditangkap nelayan pagi
tadi dan langsung naik ke panggangan. Karena kita makannya tepat di pinggir
pantai, kesegarannya itu tidak bisa bohong, rasanya masih manis dan teksturnya
sangat lembut," ungkap Angelita (26) wisatawan asal Bukittinggi yang
datang bersama keluarganya.
Berbeda dengan ikan bakar di daerah lain seperti
Jawa yang cenderung menggunakan kecap manis sebagai dominasi rasa, Ikan Bakar
khas Pariaman tampil berani dengan "bumbu merah". Racikan bumbu ini
terdiri dari cabai merah keriting yang dihaluskan khas Minangkabau atau disebut
(lado giliang), bawang putih, bawang merah, jahe, kunyit, dan lengkuas
yang dihaluskan.
Namun, elemen rahasia yang membuatnya berbeda adalah
penggunaan santan kental dan sedikit perasan asam buah. Santan memberikan
tekstur creamy dan gurih yang meresap hingga ke serat daging paling
dalam saat terkena panas api. Sementara itu, asam buah berfungsi untuk menghilangkan
bau amis sekaligus memberikan kesegaran pada rasa bumbu yang berat. Sebelum
dibakar, ikan dibelah punggung, lalu dibalurkan bumbu secara merata ke seluruh
bagian tubuh ikan hingga terendam sempurna.
“Saya sudah coba ikan bakar di banyak tempat, tapi
di Pariaman ini bumbunya paling 'berani'. Rasanya itu pedas-pedas gurih, bukan
yang manis kecap,” ujar Rian (28), seorang pengunjung asal Padang yang rutin
berburu kuliner ke pesisir.
Proses pengasapan di Pariaman masih setia
menggunakan cara tradisional, yakni memakai bara dari tempurung atau batok
kelapa kering. Penggunaan tempurung kelapa bukan tanpa alasan. Dibandingkan
dengan arang kayu biasa, tempurung kelapa menghasilkan panas yang lebih tinggi
dan stabil.
Suhu yang tinggi ini menghasilkan karamel pada bumbu
merah di permukaan kulit ikan tanpa membuatnya gosong secara berlebihan. Selain
itu, asap yang dihasilkan oleh tempurung kelapa memberikan aroma yang khas,
yang seolah-olah "mengunci" rasa rempah di dalam daging ikan. Selama
proses pembakaran, pemasak akan terus mengoleskan sisa bumbu merah yang
dicampur minyak secara berkala, memastikan ikan tetap lembap dan tidak kering
di bagian dalam.
Menikmati ikan bakar di Pariaman terasa kurang
lengkap tanpa kehadiran Nasi Sek (Nasi Seribu Kenyang), nasi ini disajikan
dalam porsi kecil yang dibungkus daun pisang dan memberikan aroma wangi yang
khas.
Ikan bakar bumbu merah biasanya disandingkan dengan
sambal lado mudo (cabai hijau) yang segar, rebusan daun singkong dan
gulai nangka. Perpaduan antara rasa pedas bumbu ikan, rasa asin gurih dari
gulai, dan pedas segar dari sambal hijau menciptakan sebuah simfoni rasa di
dalam mulut. Sensasi ini semakin lengkap jika dinikmati dengan tangan langsung
(manangan), sembari merasakan hembusan angin laut dan mendengar deburan
ombak.
Eksistensi kuliner ikan bakar di Pariaman tidak
hanya memanjakan lidah, tetapi juga menjadi alat penggerak ekonomi. Rantai
ekonomi ini melibatkan nelayan, pedagang rempah di pasar tradisional, hingga
pengusaha warung nasi di sepanjang pantai.
Wisatawan yang datang ke Pantai Gandoriah tidak
hanya mencari pemandangan matahari terbenam, tetapi juga berburu pengalaman
kuliner autentik yang tidak bisa ditemukan di daerah lain. Konsistensi para
pedagang dalam mempertahankan bumbu tradisional dan teknik pembakaran manual
menjadi alasan mengapa kuliner ini tetap bertahan di tengah gempuran tren
makanan modern.
Kini, ikan bakar bumbu merah bukan sekadar hidangan
di atas piring, melainkan sebuah undangan bagi siapa saja untuk kembali lagi ke
Pariaman, mencicipi kembali rasa yang lahir dari perpaduan antara api, rempah,
dan laut.
Penulis : Sarah Nurisma – 3B D4 Bahasa
Inggris untuk KBP
Editor : Divia Putri Zen – 3B D4 Bahasa
Inggris untuk KBP
