Amelia Amanatul
Islam saat menerima selempang Winner Duta Budaya Sumatera Barat 2026 pada malam
grand final di Padang.
Foto: Instagram politekniknegeripadang
CREWPERS.ID - Mahkota
Winner Duta Budaya Sumatera Barat 2026 yang kini disandang Amelia Amanatul
Islam bukanlah hasil dari proses instan. Di balik pencapaian tersebut, terdapat
perjalanan belajar yang panjang, keberanian keluar dari zona nyaman, serta
kecintaan yang terus tumbuh terhadap adat Minangkabau. Mahasiswi yang dikenal
aktif dalam berbagai kegiatan sosial kampus ini membuktikan bahwa keterbatasan
pengetahuan awal bukanlah penghalang untuk meraih prestasi tertinggi.
Malam grand final ajang bergengsi tingkat provinsi tersebut menjadi
puncak perjuangannya. Gelar baru ini mengantarkan sosok mahasiswi kreatif
tersebut menjadi representasi utama generasi muda Sumatra Barat. Ia kini
memikul tanggung jawab besar untuk memperkenalkan sekaligus menjaga eksistensi
budaya lokal di tengah gempuran modernisasi. Pembaca dari kalangan civitas
akademika tentu dapat mengambil inspirasi dari dedikasi nyata ini.
Bagi Amelia Amanatul Islam, mengikuti ajang pemilihan ini sejak awal
bukan semata-mata untuk mengejar kemenangan atau popularitas belaka. Ia murni
melihat kompetisi tersebut sebagai wadah efektif untuk mempelajari kembali akar
budaya daerahnya yang mulai luntur di kalangan remaja. Proses seleksi yang
ketat justru ia jadikan sarana memperluas wawasan kebangsaan.
"Awalnya Amel melihat ajang Duta Budaya ini sebagai kesempatan
untuk belajar dan mengenal budaya Minangkabau lebih dalam. Ini bukan hanya
tentang kompetisi, tetapi juga proses untuk berkembang dan menambah
wawasan," ujarnya saat diwawancarai.
Selama menjalani masa karantina, ia menyadari bahwa adat Minangkabau
tidak terbatas pada keindahan pakaian adat, seni tarian, atau kemegahan upacara
tradisional. Kebudayaan sejati menurutnya melekat pada prinsip hidup dan
moralitas sehari-hari. Berbagai falsafah hidup Minang memberikan pelajaran
berharga mengenai etika serta pembentukan karakter individu yang kuat.
Ia mengaku banyak menyerap pelajaran mengenai nilai-nilai luhur yang
masih sangat relevan diterapkan mahasiswa saat ini. Beberapa di antaranya
adalah sikap saling menghormati, kebiasaan bermusyawarah untuk mufakat, hingga
semangat tinggi untuk menuntut ilmu. Nilai-nilai mendasar inilah yang mendesak
untuk terus dijaga agar tidak semakin terasing dari kehidupan generasi z.
Perjalanan menuju podium juara pertama tentu tidak dilewati dengan
mudah begitu saja. Sebagai seorang mahasiswi yang sebelumnya tidak terlalu
berkecimpung di dalam dunia kebudayaan praktis, ia terpaksa memulai segalanya
benar-benar dari nol. Ia harus meluangkan waktu ekstra untuk membaca literatur
sejarah, memahami hukum adat, sekaligus mengasah kemampuan berbicara di depan
publik. Manajemen waktu antara tugas perkuliahan yang padat dan jadwal latihan
yang melelahkan menjadi tantangan tersendiri setiap harinya.
Tantangan terbesar yang dirasakan justru muncul dari gejolak psikologis
di dalam dirinya sendiri. Rasa gugup serta krisis rasa percaya diri sempat
membayangi langkahnya ketika melihat rekam jejak finalis lain yang jauh lebih
berpengalaman. Namun, motivasi internal yang kuat berhasil mengalahkan keraguan
tersebut.
"Sempat muncul pikiran apakah Amel bisa bersaing atau tidak.
Namun, Amel mencoba fokus pada proses belajar daripada membandingkan diri
dengan orang lain," katanya mengenang masa-masa kompetisi.
Kerja keras dan ketekunan tersebut akhirnya membuahkan hasil yang manis
di panggung utama. Saat namanya menggema sebagai pemenang utama Duta Budaya
Sumatera Barat 2026, ia sempat tertegun tidak percaya selama beberapa detik di
atas panggung. Rasa syukur langsung membuncah di dalam hatinya seiring tepuk
tangan riuh dari para penonton.
"Jujur, Amel sangat kaget. Tujuan utama Amel sejak awal bukan
untuk menjadi winner, tetapi untuk belajar dan mendapatkan pengalaman
baru," ungkapnya dengan penuh haru.
Di balik kesuksesan yang luar biasa ini, ia menegaskan pentingnya
kehadiran sistem pendukung yang solid. Doa dan restu yang tidak pernah putus
dari ayah serta ummi menjadi fondasi kekuatan utamanya selama berkompetisi.
Dukungan moral dari kakak sepupu, sahabat karib, serta para pembina di kampus
juga berperan besar dalam menjaga stabilitas mentalnya hingga akhir kompetisi.
Menatap langkah ke depan, ia bersama jajaran Duta Budaya Sumatera Barat
2026 telah merancang berbagai program kerja pelestarian yang inovatif. Fokus
utamanya adalah mengemas edukasi budaya melalui platform digital yang
interaktif agar lebih mudah diterima oleh generasi muda. Ia meyakini kebudayaan
akan lebih cepat dicintai jika disampaikan melalui metode kreatif yang adaptif
terhadap perkembangan zaman.
Ia berharap pencapaian ini dapat memicu kesadaran mahasiswa lain agar
tidak menganggap remeh warisan budaya lokal sebagai sesuatu yang kuno atau
ketinggalan zaman. Gerakan pelestarian ini dapat dimulai dari langkah kecil di
lingkungan kampus terdekat. Menutup perbincangan, ia memberikan pesan emosional
yang mendalam bagi seluruh anak muda.
"Bagi Amel, budaya adalah identitas yang membuat kita berbeda dan
istimewa. Budaya akan tetap hidup selama masih ada generasi yang peduli untuk
menjaganya," tutupnya secara diplomatis.
Penulis : Nurul Aisyah Haq – 3B D4 Bahasa
Inggris untuk KBP
Editor : Rahma Aurella – 3A D4 Bahasa Inggris untuk KBP
