![]() |
Aprilia
Selvi Maling, mahasiswi Jurusan Teknik Elektro Politeknik Negeri Padang yang
berasal dari Papua Pegunungan.
|
Foto:
Aprilia Selvi Maling. |
CREWPERS.ID
- Jarak ribuan kilometer membentang antara
tanah Papua Pegunungan dan Kota Padang. Jarak yang jauh ini kini menjadi saksi
bisu perjalanan hidup Aprilia Selvi Maling. Mahasiswi Jurusan Teknik Elektro
Politeknik Negeri Padang (PNP) tersebut memilih meninggalkan kampung halaman
demi mengejar impian pendidikan tinggi.
Keputusan
merantau bukanlah hal yang mudah bagi Selvi. Ia
berasal dari Papua Pegunungan, wilayah yang menurutnya masih menghadapi
berbagai tantangan dalam akses dan fasilitas pendidikan. Beruntung, program
Beasiswa Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADIK) hadir membuka jalan baru saat ia
masih duduk di bangku SMA.
Saat
mengetahui dirinya diterima sebagai penerima Beasiswa ADIK dan berkesempatan
kuliah di PNP, Selvi mengaku diliputi rasa syukur sekaligus bahagia. Meskipun
belum mengenal kampus yang akan menjadi tempat belajarnya, ia melihat
kesempatan tersebut sebagai jalan untuk meraih cita-cita dan membanggakan
keluarga.
“Yang
pertama kali terlintas di pikiran saya adalah rasa syukur dan bahagia karena
mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Saya
melihat kesempatan ini sebagai jalan untuk meraih cita-cita dan membanggakan
keluarga, meskipun saya tidak tau kampus Politeknik Negeri Padang,” ujarnya.
Perjalanan
menuju bangku kuliah dimulai sejak ia masih duduk di bangku SMA. Selvi pertama
kali mengetahui informasi mengenai Beasiswa ADIK dari sekolah dan pihak
terkait. Setelah mengikuti proses pendaftaran serta melengkapi berbagai
persyaratan yang dibutuhkan, ia akhirnya dinyatakan lolos dan memperoleh
kesempatan melanjutkan pendidikan di PNP.
Keputusan
merantau ke Sumatera Barat menjadi pengorbanan besar bagi Selvi. Ia harus
meninggalkan keluarga dan kampung halaman dalam waktu yang tidak sebentar demi
memperoleh pendidikan yang lebih baik. Namun, ia memandang keputusan tersebut
sebagai langkah penting untuk masa depannya.
Setibanya
di Padang, Selvi merasakan campuran perasaan senang dan gugup. Kesempatan untuk
berkuliah membuatnya bersemangat, tetapi tinggal jauh dari keluarga dan berada
di lingkungan yang sama sekali baru menjadi tantangan tersendiri.
“Saat
pertama kali tiba di Padang, saya merasa senang sekaligus gugup. Senang karena
mendapatkan kesempatan untuk kuliah, tetapi juga merasa khawatir karena harus
tinggal jauh dari keluarga dan beradaptasi dengan lingkungan yang benar-benar
baru,” katanya.
Perbedaan
budaya menjadi pengalaman baru yang harus dihadapinya. Perbedaan mencolok
langsung ia rasakan pada logat bicara masyarakat, suasana lingkungan, hingga
makanan lokal yang didominasi rasa pedas. Selvi mengaku sempat diliputi rasa
gugup dan khawatir tidak bisa membaur. Selvi rindu rumah. Meski demikian, ia
menganggap pengalaman tersebut sebagai kesempatan untuk belajar memahami
keberagaman.
Kesulitan
beradaptasi dengan lingkungan baru dan jadwal kuliah yang padat bahkan sempat
membuat Selvi ingin menyerah. Namun, ia selalu memaksa dirinya untuk bangkit
dengan mengingat kembali pengorbanan orang tua.
"Pernah
merasa ingin menyerah, terutama di awal perkuliahan yang terasa sangat berat.
Kalau sudah begitu, saya langsung telepon atau video call keluarga untuk
memompa kembali motivasi belajar," ungkapnya.
Selvi
juga merasakan manfaat besar dari Beasiswa ADIK. Selain membantu biaya
pendidikan, beasiswa tersebut turut meringankan kebutuhan hidup sehari-hari
sehingga ia dapat lebih fokus menjalani perkuliahan.
Beruntungnya,
lingkungan mendorong ia berkembang. Selvi merasa sangat terbantu oleh rangkulan
hangat dari teman sesama Papua, para senior, hingga dosen. Pihak kampus juga
memberikan perhatian serta dukungan khusus bagi mahasiswa afirmasi. Perlakuan
ini membuatnya merasa diterima dengan tangan terbuka dan jauh lebih percaya
diri dalam bergaul dengan mahasiswa lainnya.
Meski
Jurusan Teknik Elektro sebenarnya bukan bidang yang ia pilih secara mandiri,
melainkan hasil penempatan dari sistem beasiswa. Namun Selvi perlahan menemukan
ketertarikan pada bidang tersebut. Setelah menjalani perkuliahan, ia melihat
peran ilmu kelistrikan dan teknologi dalam kehidupan masyarakat maupun
pembangunan daerah
Manfaat
ganda dari Beasiswa ADIK pun diakuinya menjadi faktor krusial yang membuatnya
bisa bertahan hingga hari ini. Bantuan biaya pendidikan dan uang saku bulanan
membuatnya bisa fokus belajar di kelas maupun perpustakaan tanpa perlu
mencemaskan kondisi ekonomi. Selvi kini merajut mimpi besar untuk segera
menyelesaikan studi dengan hasil terbaik. Ia ingin membawa pulang ilmu dari PNP
untuk membangun instalasi teknologi dan menginspirasi anak-anak muda di Papua
Pegunungan.
Bagi
generasi muda Papua yang ingin mengikuti jejaknya, Selvi memiliki pesan
sederhana.
“Jangan
takut untuk bermimpi dan mencoba hal-hal baru. Manfaatkan setiap kesempatan
yang ada, tetap semangat belajar, dan percaya bahwa pendidikan dapat menjadi
jalan untuk meraih masa depan yang lebih baik.”
Jika
harus menggambarkan seluruh perjalanannya dalam satu kalimat, Selvi memilih
kalimat yang mencerminkan perjuangannya selama ini:
"Perjalanan
dari Papua Pegunungan ke Padang adalah perjalanan penuh tantangan yang
mengajarkan saya untuk terus berjuang demi masa depan yang lebih baik."
Penulis : Indah Simatupang – 3A D4 Bahasa Inggris untuk KBP
Editor : Rahma Aurella – 3A D4 Bahasa
Inggris untuk KBP
