Gema Hijrah Minangkabau: Momentum Perubahan dan Pelestarian Adat di Bumi Minang

Masyarakat memadati area kegiatan Gema Hijrah Minangkabau di Kecamatan Pauh, Kota Padang, dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah, Sabtu (13/6/2026).

Foto: Dokumentasi Crewpers.



CREWPERS.ID - Padang, 13 Juni 2026 — Suasana meriah dan penuh nuansa Islami menyelimuti Kecamatan Pauh, Kota Padang, Sumatera Barat, saat digelarnya event budaya dan religi bertajuk "Gema Hijrah Minangkabau". Acara yang diselenggarakan dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah ini berhasil menarik antusias masyarakat dari berbagai kalangan.

Kegiatan ini digagas oleh Wakil Ketua DPRD Provinsi Sumatera Barat, Muhammad Iqra Chissa, yang mengalokasikan pokok-pokok pikirannya untuk menghadirkan penyanyi religi nasional ternama, Hadad Alwi, sebagai daya tarik utama acara. Wali Kota Padang, Fadly Amran, turut hadir langsung memberikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan event budaya ini.

Sejumlah anggota legislatif juga tampak memadati acara tersebut. Dari DPRD Kota Padang, hadir perwakilan Fraksi Golkar yakni Helmi Moesim, Miswar Djambak, Febri, Eri Anto Mahmuda, dan Tommy Romengan. Turut hadir pula Donald Ardi dari Fraksi Gerindra, serta Ketua Fraksi Demokrat Surya Jufri Bitel. Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar Saiful dan Kepala Balai Bahasa juga terlihat di antara para tamu undangan.

Menurut Iqra, acara ini sengaja dirancang sebagai hiburan rakyat sekaligus pengingat akan makna hijrah yang sesungguhnya. Ia menegaskan bahwa momentum tahun baru Islam seharusnya menjadi titik balik bagi seluruh masyarakat untuk bergerak menuju perubahan yang lebih baik, baik dari sisi spiritual maupun ekonomi. Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang tengah melanda, Iqra juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi dan tetap menjaga diri dari berbagai pengaruh negatif.

Acara semakin bermakna dengan hadirnya ceramah agama yang dibawakan oleh Ustaz Syafwan Dirran, serta penampilan Qoriah Aril yang memukau para hadirin.

Warga Antusias, Adat Harus Terus Dijaga

Salah satu warga yang hadir dalam acara ini adalah Pak Didi, yang mengaku mengetahui informasi tentang Gema Hijrah Minangkabau dari seorang rekannya yang berprofesi sebagai guru.

"Saya dapat info dari teman saya yang seorang guru, langsung tertarik untuk datang," ujar Pak Didi.

Antusiasme Pak Didi bukan tanpa alasan. Ia dikenal sebagai sosok yang sangat menghargai dan mencintai adat serta budaya Minangkabau. Baginya, acara seperti ini bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur yang harus terus dijaga keberlangsungannya.

Namun di balik kegembiraannya mengikuti acara, Pak Didi juga menyampaikan harapan dan kritik yang membangun. Menurutnya, pemerintah perlu lebih konsisten dan rutin dalam menyelenggarakan kegiatan yang mengangkat nilai-nilai adat dan budaya Minang.

"Acara seperti ini seharusnya rutin diadakan. Adat dan budaya kita ini kekayaan yang luar biasa, tapi kalau tidak sering diperkenalkan dan diperingati, lama-lama bisa terlupakan baik oleh generasi muda maupun yang tua. Melestarikan budaya itu bukan hanya tugas pemerintah, tapi kewajiban kita bersama," tegasnya.

Pesan Pak Didi menjadi cerminan suara banyak warga yang berharap momentum seperti Gema Hijrah Minangkabau bukan hanya menjadi agenda tahunan semata, tetapi benar-benar menjadi gerakan nyata dalam melestarikan identitas budaya Minangkabau di tengah arus modernisasi yang terus berkembang.

Harapan dari Tanah Minang

Gema Hijrah Minangkabau menjadi bukti nyata bahwa semangat keislaman dan kecintaan terhadap adat budaya bisa berjalan beriringan. Di bawah rindangnya pohon kelapa dan langit Kota Padang, ribuan masyarakat bersatu  bukan hanya untuk menikmati hiburan, tetapi juga untuk mengingatkan diri bahwa identitas Minangkabau yang kuat adalah warisan yang tak ternilai harganya.

Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah  filosofi hidup orang Minang yang kembali menggema di tanah Pauh, mengingatkan semua pihak bahwa menjaga budaya adalah menjaga jati diri bangsa.

 

Jurnalis: Naufal abdul fattah

Editor: Zahira Yelsa Ilyana

 

 

Previous Post Next Post