Alek Bakajang: Melestarikan Adat Lewat Replika Kapal di Batang Maek

 

Foto: RRI.co.id



Di Nagari Gunuang Malintang, Kabupaten Lima Puluh Kota, perayaan Idulfitri tidak hanya diisi dengan silaturahmi dari rumah ke rumah. Masyarakat setempat memiliki tradisi khas bernama Alek Bakajang. Berbeda dengan festival air yang biasanya mengedepankan kompetisi, Alek Bakajang merupakan upacara adat yang menggunakan replika kapal sebagai sarana mempererat hubungan antarwarga.

Secara historis, kajang merupakan sampan beratap yang dahulu digunakan sebagai sarana transportasi menuju Riau untuk berdagang. Kini, fungsinya berubah menjadi simbol budaya masyarakat setempat. Setiap tahun, lima jorong di Gunuang Malintang bergotong-royong membangun kapal kayu yang didesain menyerupai kapal pesiar modern. Meski menghabiskan biaya puluhan juta rupiah secara swadaya, antusiasme masyarakat tetap tinggi demi menjaga kehormatan nagari.

Inti dari tradisi ini adalah prosesi manjalang atau berkunjung. Lima kapal yang mewakili empat suku dan satu unsur pemerintahan nagari akan berlayar bergantian menyusuri Sungai Batang Maek untuk mengunjungi dermaga jorong lainnya. Di setiap perhentian, dilakukan penyambutan formal oleh niniak mamak (pemangku adat) dan perangkat nagari. Sebagaimana pepatah Minangkabau mengatakan, "Kamanakan barajo ka mamak, mamak barajo ka pangulu, pangulu barajo ka mupakaik" yang mencerminkan kuatnya sistem hierarki dan musyawarah dalam masyarakat.

Di atas dek kapal, para pimpinan adat duduk bersama untuk berdialog mengenai perkembangan nagari. Momen ini juga menjadi sarana edukasi bagi generasi muda dan perantau untuk mengenal struktur sosial kaum mereka. Keberhasilan dalam mempertahankan nilai-nilai ini pun telah membawa Alek Bakajang diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTbI).

Lebih dari sekadar atraksi visual, Alek Bakajang turut mendorong perkembangan ekonomi dan pariwisata di Kabupaten Lima Puluh Kota. Kehadiran ribuan pengunjung dan perantau setiap tahunnya menghidupkan UMKM lokal di sepanjang tepian Batang Maek, sekaligus membuktikan bahwa pelestarian adat dapat berjalan selaras dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Melalui tradisi ini, masyarakat tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga memanfaatkannya untuk mendukung perekonomian lokal. Alek Bakajang pun tetap bertahan sebagai identitas budaya yang hidup di tengah perkembangan zaman.



Jenis berita : Soft News

Jurnalis.      : Mohammad Alfariji Herman 3B D4 Bahasa Inggris KBP

Editor         : Zahira Yelsa  3B D4 Bahasa Inggris KBP

 

 

 

 

 

 


Previous Post Next Post