Tradisi maapam merupakan salah satu warisan budaya yang masih dijaga oleh masyarakat Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat. Tradisi ini telah ada sejak zaman nenek moyang dan hingga saat ini masih terus dilaksanakan oleh masyarakat sebagai bagian dari kehidupan sosial dan budaya mereka. Melalui tradisi ini, masyarakat tidak hanya mempertahankan budaya, tetapi juga memperkuat nilai kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari.
Pelaksanaan tradisi maapam biasanya dilakukan menjelang perayaan keagamaan besar seperti menyambut bulan suci Ramadan atau peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Kegiatan ini tidak memiliki tanggal yang tetap setiap tahunnya. Waktu pelaksanaannya ditentukan berdasarkan kesepakatan masyarakat di masing-masing jorong yang ada di Kabupaten Pasaman Barat. Oleh karena itu, pelaksanaan tradisi ini dapat berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya.
Dalam tradisi ini, masyarakat akan berkumpul untuk memasak makanan tradisional yang disebut apam. Makanan ini terbuat dari campuran tepung beras, santan, ragi, dan gula. Setelah matang, apam biasanya disajikan dengan taburan kelapa sangrai di atasnya. Proses memasak dilakukan secara bersama-sama menggunakan tungku tradisional yang disiapkan oleh masyarakat.
Tradisi maapam tidak hanya diikuti oleh kalangan orang tua, tetapi juga melibatkan anak-anak dan remaja. Kegiatan ini menjadi momen yang dinantikan oleh masyarakat karena memberikan kesempatan untuk berkumpul bersama keluarga dan tetangga. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana bagi generasi muda untuk mengenal dan memahami budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur.
Menurut salah satu tokoh masyarakat Pasaman Barat, Muzardin Majid, tradisi maapam memiliki makna sosial yang sangat penting bagi masyarakat setempat.
“Tradisi maapam bukan hanya sekadar kegiatan memasak bersama. Tradisi ini menjadi simbol kebersamaan masyarakat serta cara untuk menjaga hubungan baik antarwarga,” kata Muzardin Majid.
Selain masyarakat, kegiatan ini juga sering dihadiri oleh berbagai unsur pemerintahan daerah. Kehadiran pemerintah dalam kegiatan ini menunjukkan dukungan terhadap upaya pelestarian budaya daerah yang telah berlangsung sejak lama.
Keunikan tradisi maapam juga pernah menarik perhatian nasional. Pada tahun dua ribu dua puluh, tradisi ini berhasil memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Rekor tersebut tercatat melalui kegiatan memasak apamsecara massal menggunakan seribu tujuh ratus empat tungku secara bersamaan.
Berdasarkan informasi dari Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Pasaman Barat, kegiatan tersebut dihadiri sekitar sepuluh ribu orang. Selain masyarakat, sejumlah tokoh penting juga hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya anggota DPD RI Emma Yohana, anggota DPRD Sumatera Barat Yunisra Syahiran, serta jajaran Forkopimda dan kepala organisasi perangkat daerah di Pasaman Barat.
Proses memasak apam dalam kegiatan tersebut dimulai sejak pukul tujuh pagi waktu Indonesia Barat. Ratusan tungku yang menyala secara bersamaan menciptakan suasana yang meriah dan penuh semangat kebersamaan.
Bagi masyarakat Pasaman Barat, tradisi maapam tidak hanya sekadar kegiatan budaya. Tradisi ini juga menjadi sarana untuk mempererat hubungan sosial antara masyarakat, keluarga, serta pemerintah daerah. Kebersamaan yang tercipta dalam kegiatan ini menjadi salah satu nilai penting yang terus dijaga hingga saat ini.
Melalui tradisi maapam, masyarakat Pasaman Barat menunjukkan bahwa warisan budaya tidak hanya menjadi bagian dari masa lalu, tetapi juga tetap hidup dan relevan dalam kehidupan masyarakat modern.
Jurnalis :Dinda Putri Miranti
Editor : Zahira Yelsa Ilyana