Di
tengah banyaknya kue kering modern dan sajian instan, masyarakat Kabupaten
Padang Pariaman tetap mempertahankan tradisi malamang sebagai bagian dari
persiapan menyambut Idul Fitri.
Tradisi ini tidak sekadar kegiatan memasak, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan
dan warisan budaya yang telah dijaga secara turun-temurun, terutama di kawasan
Ulakan. Bagi masyarakat setempat, malamang memiliki makna yang lebih dalam
karena berkaitan dengan sejarah dan nilai religi yang masih dipercaya hingga
sekarang.
Malamang
diyakini memiliki hubungan erat dengan sejarah penyebaran Islam oleh Syekh
Burhanuddin di wilayah Padang Pariaman. Tradisi ini dipercaya bermula dari
anjuran untuk menyajikan makanan yang bersih dan halal dengan cara memasak
beras ketan di dalam bambu yang dilapisi daun pisang muda. Hingga saat ini,
cara memasak tersebut tetap dipertahankan karena dianggap memiliki nilai
kesucian sekaligus mempererat kebersamaan masyarakat.
Proses
malamang biasanya dimulai dua atau tiga hari sebelum Idul Fitri.
Suasana gotong royong terlihat sejak pagi hari ketika masyarakat mulai
mempersiapkan bahan dan peralatan. Kaum laki-laki mencari bambu muda dan kayu
bakar, sedangkan kaum perempuan menyiapkan beras ketan dan santan yang akan
dimasukkan ke dalam bambu. Setelah itu, bambu disusun di atas bara api dan
dipanggang selama beberapa jam hingga matang.
Syaifullah
selaku Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat menyampaikan bahwa
tradisi malamang merupakan warisan budaya yang harus terus dilestarikan.
“Tradisi malamang ini merupakan warisan budaya takbenda yang perlu dijaga.
Selain sebagai bentuk rasa syukur, malamang juga menjadi simbol kuat dalam
mempererat silaturahmi antara masyarakat di kampung halaman dan para perantau,”
ujarnya.
Selain
memiliki nilai budaya, malamang juga dikenal dengan variasi rasanya. Masyarakat
biasanya membuat lamang putih, lamang pisang, dan lamang hitam yang menggunakan
ketan hitam. Setelah matang, lamang disajikan kepada tamu yang datang
bersilaturahmi saat Lebaran, sehingga tradisi ini tidak hanya menjadi kegiatan
memasak, tetapi juga menjadi cara menjaga hubungan kekeluargaan.
Melalui
tradisi malamang, masyarakat Padang Pariaman menunjukkan bahwa budaya lokal
tetap dapat bertahan di tengah perkembangan zaman. Kebersamaan dalam proses memasak
hingga menyajikan lamang menjadi pengingat bahwa hari raya bukan hanya tentang
perayaan, tetapi juga tentang menjaga hubungan dan menghargai warisan leluhur.
Jenis berita: Soft News
Jurnalis :
Mohammad Alfariji Herman 3B D4 Bahasa Inggris KBP
Editor :
Zahira Yelsa Ilyana 3B D4 Bahasa Inggris KBP
