Waspada Makanan Sisa Lebaran, Pemanasan Berulang Picu Risiko Kesehatan

Foto: Ilustrasi



Memasuki beberapa hari setelah Lebaran, banyak masyarakat di Sumatera Barat masih mengonsumsi makanan sisa seperti rendang dan gulai yang disimpan dari hari sebelumnya. Namun, kebiasaan memanaskan makanan bersantan secara berulang kali perlu diwaspadai karena dapat menimbulkan risiko bagi kesehatan jika tidak dilakukan dengan tepat.

Di sejumlah rumah tangga, makanan Lebaran kerap dipanaskan kembali setiap kali akan disajikan. Praktik ini dianggap wajar karena rendang dan gulai dikenal tidak mudah basi. Sejumlah warga di Kota Padang mengaku masih menghangatkan makanan tersebut hingga beberapa kali agar tetap bisa dikonsumsi selama beberapa hari setelah hari raya. Namun, di balik kebiasaan tersebut, terdapat perubahan kualitas makanan yang sering kali tidak disadari.

Dalam laporan kesehatan yang dipublikasikan oleh CNN Indonesia pada tahun 2025, disebutkan bahwa santan sebaiknya tidak dipanaskan berulang kali karena dapat mengalami perubahan pada tekstur dan kandungan nutrisinya. Pemanasan berulang dapat membuat santan pecah dan mengubah komposisi lemak di dalamnya.

Ahli gizi klinis dari Universitas Indonesia, dr. Tan Shot Yen, dalam laporan yang sama menjelaskan bahwa proses pemanasan berkali-kali berpotensi memicu oksidasi lemak. Kondisi ini dapat meningkatkan kadar asam lemak bebas serta menghasilkan senyawa seperti radikal bebas dan aldehida yang kurang baik bagi tubuh jika dikonsumsi dalam jangka panjang.

Selain itu, makanan bersantan yang terus dipanaskan juga cenderung mengalami penurunan nilai gizi. Kandungan vitamin dan zat penting lainnya dapat berkurang, sementara lapisan minyak yang muncul di permukaan justru meningkatkan kadar lemak jenuh pada makanan.

Dari sisi keamanan pangan, makanan yang tidak disimpan dengan benar juga berisiko terkontaminasi bakteri. Makanan bersantan yang dibiarkan terlalu lama pada suhu ruang menjadi lebih rentan mengalami kerusakan dan dapat memicu gangguan pencernaan saat dikonsumsi.

Fenomena ini tidak terlepas dari pola konsumsi masyarakat setelah Lebaran, di mana aktivitas silaturahmi mulai berkurang namun persediaan makanan masih cukup banyak. Tanpa pengelolaan yang tepat, makanan sisa justru berpotensi menjadi sumber masalah kesehatan.

Untuk itu, masyarakat disarankan lebih bijak dalam mengelola makanan sisa Lebaran, terutama yang berbahan dasar santan. Beberapa langkah sederhana dapat dilakukan untuk menjaga kualitas dan keamanannya.

Pertama, usahakan memasak dalam porsi secukupnya agar tidak menyisakan makanan dalam jumlah besar. Kedua, simpan sisa makanan dalam wadah tertutup dan letakkan di lemari pendingin untuk memperlambat pertumbuhan bakteri. Ketiga, hangatkan kembali makanan hanya sekali saat akan dikonsumsi. Selain itu, hindari membiarkan makanan bersantan berada pada suhu ruang terlalu lama karena lebih mudah basi.

Dengan memperhatikan cara penyimpanan dan pemanasan yang tepat, masyarakat tetap dapat menikmati hidangan khas Lebaran tanpa harus mengorbankan kesehatan. Kesadaran terhadap keamanan makanan menjadi bagian penting agar momen kebersamaan tetap berlangsung dengan nyaman.

                     

Jenis Berita​     : Softnews

Penulis ​           : Yessa Rahmanelvi – 3A D4 Bahasa Inggris untuk KBP 

Editor              : Delia Novitri Delin – 3A D4 Bahasa Inggris untuk KBP 

 

Previous Post Next Post