Sajian Lotek Ayang di Kampung Baru, Kota Pariaman, Minggu (26 April 2026).
Foto: Crewpers
CREWPERS.ID – Aktivitas mengulek bumbu
kacang di atas cobek masih menjadi pemandangan yang mudah ditemui di lapak Lotek
Ayang yang berlokasi di Kampung Baru, Kota Pariaman. Di tengah maraknya
makanan modern yang mengedepankan kecepatan dan kepraktisan, kuliner tradisional
ini tetap mempertahankan cara penyajian yang sederhana dan konsisten dari waktu
ke waktu.
Lapak tersebut dikenal tidak pernah sepi pengunjung. Setiap hari, pembeli
datang silih berganti untuk menikmati seporsi lotek yang dibuat langsung
setelah pembeli memesan. Tidak jarang, antrean terlihat di sekitar gerobak
penjual, terutama pada waktu siang hingga sore hari. Kondisi ini menunjukkan
bahwa minat masyarakat terhadap kuliner tradisional masih cukup tinggi.
Lotek merupakan salah satu hidangan berbahan dasar sayuran yang dipadukan
dengan bumbu kacang. Dalam satu porsi, umumnya terdiri atas kangkung, tauge,
kol, ketupat, dan kacang panjang yang telah direbus. Seluruh bahan tersebut
kemudian dicampur dengan bumbu kacang kental yang menjadi ciri khas utama dari
hidangan ini.
Keunikan lotek tidak hanya terletak pada bahan yang digunakan, tetapi juga
pada proses penyajiannya. Berbeda dengan sebagian makanan sejenis, bumbu kacang
pada lotek tidak disiapkan terlebih dahulu dalam jumlah besar. Di Lotek
Ayang, bumbu kacang dibuat secara langsung setiap kali ada pesanan. Kacang
tanah, cabai, bawang putih, kencur, garam, dan gula merah diulek hingga halus
di dalam cobek sebelum dicampurkan dengan sayuran.
Proses tersebut memberikan pengaruh terhadap cita rasa yang dihasilkan.
Bumbu yang diulek secara langsung menghasilkan aroma yang lebih kuat serta rasa
yang lebih segar. Selain itu, pembeli juga dapat menyesuaikan tingkat kepedasan
dan komposisi rasa sesuai dengan selera masing-masing. Hal ini menjadi salah
satu alasan mengapa lotek tetap diminati hingga saat ini.
Lotek kerap dibandingkan dengan gado-gado karena memiliki bahan dasar yang
serupa. Namun demikian, terdapat perbedaan yang cukup jelas dalam proses
pengolahan bumbu. Pada gado-gado, bumbu kacang umumnya telah dimasak dan
disiapkan sebelumnya dalam jumlah banyak, sehingga penyajiannya menjadi lebih
cepat dan praktis. Sementara itu, pada lotek, proses pembuatan bumbu dilakukan
saat itu juga, sehingga menghasilkan karakter rasa yang berbeda.
Dari segi tekstur, bumbu lotek cenderung lebih kental dan memiliki cita rasa
yang lebih kuat, terutama dari kencur dan bawang putih. Sementara itu, bumbu
gado-gado yang telah dimasak biasanya memiliki tekstur yang lebih halus dengan
rasa yang lebih stabil. Perbedaan tersebut menjadikan lotek memiliki identitas
tersendiri di antara ragam kuliner berbumbu kacang.
Di tengah perkembangan tren kuliner yang terus berubah, lotek tidak
mengalami banyak pergeseran, baik dari segi bahan maupun cara penyajian.
Meskipun tidak mengikuti inovasi penyajian modern, keberadaan lotek tetap mampu
menarik perhatian masyarakat dari berbagai kalangan.
Kondisi tersebut tercermin dari aktivitas di Lotek Ayang yang
setiap hari ramai dikunjungi pembeli. Antrean yang kerap terjadi menjadi
indikator bahwa kuliner tradisional ini masih memiliki tempat di tengah
masyarakat, bahkan di era yang serba cepat seperti saat ini.
Selain itu, lotek juga dinilai sebagai pilihan makanan yang relatif
sederhana, namun tetap menghadirkan rasa yang lengkap. Kombinasi sayuran yang
digunakan memberikan keseimbangan, sementara bumbu kacang menghadirkan cita
rasa gurih dan manis dalam setiap sajian.
Keberadaan lotek yang tetap bertahan hingga saat ini menunjukkan bahwa
kuliner tradisional tidak selalu harus mengikuti perubahan zaman untuk tetap
relevan. Selama kualitas rasa, proses penyajian, dan keaslian tetap dijaga,
minat masyarakat terhadap makanan tersebut akan terus ada. Fenomena ini
sekaligus menjadi bukti bahwa kesederhanaan dapat menjadi kekuatan utama dalam
mempertahankan eksistensi sebuah kuliner tradisional di tengah arus
modernisasi.
Jenis Berita : Feature - Kuliner
Penulis :
Sarah Nurisma – 3B D4 Bahasa Inggris untuk KBP
Editor :
Divia Putri Zen – 3B D4 Bahasa Inggris untuk KBP
