Mahasiswa Politeknik Negeri Padang, Muhammad Dwi Zacky, Hadapi Tantangan Kesehatan saat beradaptasi dengan Iklim di Tiongkok

Muhammad Dwi Zacky berpose di kawasan wisata Ciqikou Ancient Town, Chongqing, Tiongkok, saat menjalani masa studi di Liuzhou, Guangxi, Tiongkok.

Foto: Muhammad Dwi Zacky



CREWPERS.ID - Di balik semangat menempuh pendidikan di luar negeri, mahasiswa kerap dihadapkan pada tantangan yang tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga kesehatan. Salah satu faktor yang sering diabaikan adalah perbedaan iklim yang dapat memengaruhi kondisi tubuh, terutama pada masa awal adaptasi di lingkungan baru.

Perbedaan kondisi iklim dari wilayah tropis di Indonesia ke iklim subtropis yang cenderung lembap dan fluktuatif di Liuzhou, Guangxi, Tiongkok, dapat memicu gangguan kesehatan, seperti penurunan daya tahan tubuh, kelelahan, hingga gangguan adaptasi tubuh pada masa awal kedatangan.

Pengalaman tersebut dirasakan oleh Muhammad Dwi Zacky (21), mahasiswa Program Studi D-3 Teknik Mesin Politeknik Negeri Padang yang tengah menjalani program Mechatronic di Liuzhou sejak Oktober 2025. Ia mengaku sempat terkejut dengan perbedaan suhu yang cukup jauh dibandingkan dengan kondisi di Indonesia.

“Saya sangat kaget karena perbedaan iklim di sini cukup jauh dengan yang ada di Indonesia,” ujarnya.

Pada masa awal kedatangannya, Zacky juga sempat mengalami gangguan kesehatan berupa demam akibat perubahan cuaca yang cukup ekstrem. Meski tidak menjadi kendala serius, kondisi tersebut membuatnya harus lebih berhati-hati dalam menjaga stamina tubuh agar tetap stabil selama menjalani aktivitas akademik.

Menurutnya, perubahan suhu yang cukup signifikan memiliki dampak langsung terhadap rutinitas sehari-hari. Tubuh yang belum terbiasa dengan lingkungan baru membuatnya lebih cepat merasa lelah, sehingga berpengaruh pada konsentrasi dan produktivitas saat mengikuti proses pembelajaran di kampus.

“Cuaca sangat berpengaruh karena tubuh belum terbiasa dengan suhu di sini,” katanya.

Seiring berjalannya waktu, Zacky mulai beradaptasi dengan kondisi tersebut melalui penerapan pola hidup sehat secara konsisten. Ia menjaga pola makan dengan lebih teratur, mengatur waktu istirahat agar cukup, serta rutin berolahraga seperti berlari untuk menjaga kebugaran tubuh. Selain itu, ia juga mengonsumsi vitamin sebagai upaya meningkatkan daya tahan tubuh di tengah perubahan musim.

Tidak hanya faktor cuaca, perbedaan jenis makanan juga menjadi tantangan tersendiri. Zacky mengungkapkan bahwa makanan di Tiongkok memiliki cita rasa dan komposisi yang berbeda dengan makanan di Indonesia. Untuk mengatasi hal tersebut, ia memilih memasak sendiri agar asupan nutrisi tetap terjaga dan lebih sesuai dengan kebiasaan makan sebelumnya.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa adaptasi iklim bukan hanya persoalan kenyamanan, tetapi juga berkaitan erat dengan kesehatan fisik dan kebiasaan hidup. Tanpa persiapan yang matang, perubahan lingkungan dapat berdampak langsung pada kondisi tubuh dan aktivitas akademik mahasiswa.

Zacky menilai bahwa salah satu hal yang sering diremehkan oleh mahasiswa baru yang akan menempuh studi di luar negeri adalah anggapan bahwa iklim di negara tujuan tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Padahal, menurutnya, perbedaan tersebut dapat berdampak langsung terhadap kondisi kesehatan jika tidak dipersiapkan sejak awal.

“Banyak yang mengira iklim di sini sama seperti di Indonesia, padahal berbeda dan itu bisa berdampak pada kesehatan,” ungkapnya.

Ia pun menekankan pentingnya persiapan sebelum berangkat ke luar negeri, terutama dari sisi mental dan kesehatan fisik. Menurutnya, mahasiswa perlu membawa perlengkapan penting seperti obat-obatan pribadi, vitamin, serta kebutuhan logistik seperti bumbu masakan dari Indonesia agar lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan baru.

“Persiapan mental itu yang utama, lalu siapkan juga obat-obatan dan vitamin,” katanya.

Zacky juga menyampaikan pesan kepada mahasiswa Politeknik Negeri Padang yang ingin melanjutkan studi ke luar negeri agar tetap semangat menghadapi berbagai tantangan yang akan dihadapi.

“Hidup adalah keberanian menghadapi tanda tanya. Jadi tetap semangat dan persiapkan mental,” tutupnya.

Bagi Zacky, pengalaman beradaptasi dengan iklim di negeri orang menjadi pelajaran berharga bahwa hal-hal yang terlihat sederhana seperti cuaca ternyata memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan, kebiasaan hidup, dan proses belajar seseorang. Dari pengalaman tersebut, ia belajar bahwa kesiapan dan kesadaran diri menjadi kunci utama agar mampu bertahan dan berkembang di lingkungan baru yang penuh perbedaan.

 



Jenis Berita    : Feature 

Penulis            : Yessa Rahmanelvi – 3A D4 Bahasa Inggris KBP

Editor             : Delia Novitri Delin – 3A D4 Bahasa Inggris KBP

 

Previous Post Next Post