Dari Vakum Kompetisi, Aisha Raih Juara Storytelling Nasional

 

Aisha Rona Zalila meraih Juara 3 Kompetisi Storytelling Nasional.

Foto: Aisha Rona Zalita


CREWPERS.ID – Dunia storytelling menjadi ruang yang sejak lama dekat dengan Aisha Rona Zalila, mahasiswi D4 Bahasa Inggris Politeknik Negeri Padang. Ketertarikannya pada seni dan sastra membuat ia senang mengeksplorasi cerita sekaligus mendalami karakter yang diperankan. Storytelling merupakan cara untuk menghidupkan imajinasi melalui ekspresi dan narasi, menurutnya.

Ketertarikan itu mulai tumbuh sejak Aisha duduk di bangku SD dan SMP. Saat itu, ia aktif mengikuti berbagai perlombaan storytelling tingkat kota hingga provinsi. Meski belum berhasil meraih posisi juara utama dan lebih sering berhenti di kategori juara harapan maupun favorit, pengalaman tersebut perlahan membentuk kemampuan berbicara dan rasa percaya dirinya di atas panggung.

Memasuki masa SMA, Aisha memutuskan untuk lebih fokus pada akademik dan persiapan masuk perguruan tinggi. Selama tiga tahun, ia tidak lagi mengikuti perlombaan. Setelah berhasil masuk ke perguruan tinggi pilihannya melalui jalur prestasi, semangat untuk kembali ke dunia kompetisi perlahan muncul. Namun, kembali tampil setelah cukup lama vakum bukan hal yang mudah baginya.

Kesempatan itu datang ketika seorang dosen merekomendasikan Aisha untuk mengikuti lomba storytelling tingkat nasional di Surakarta. Di tengah kesibukan kuliah, kepanitiaan, dan kegiatan volunteer, tawaran tersebut sempat membuatnya ragu. Ia harus mempertimbangkan pembagian waktu agar kegiatan lomba tidak mengganggu tanggung jawab akademiknya.

Meski demikian, dukungan dari lingkungan sekitar membuat Aisha mantap mencoba kesempatan tersebut. Ia kemudian mulai mempersiapkan diri untuk babak penyisihan di tengah padatnya kegiatan Pekan Kreativitas Teknologi, Olahraga, dan Seni (PKTOS) di kampus. Saat itu, Aisha juga bertugas sebagai penanggung jawab divisi acara di jurusannya sehingga waktu persiapannya menjadi sangat terbatas.

Di sela kesibukan tersebut, Aisha tetap meluangkan waktu untuk mendalami cerita yang akan dibawakannya. Ia memiliki cara tersendiri dalam memahami karakter, yaitu dengan membayangkan latar kehidupan setiap tokoh dalam cerita. Menurutnya, ketika karakter sudah dipahami dengan baik, intonasi, ekspresi, dan cara penyampaian akan mengalir lebih alami saat tampil.

“Kalau sudah paham karakter tokohnya, ekspresi dan cara bicaranya akan mengikuti dengan sendirinya,” ujar Aisha.

Persiapan yang dilakukan di tengah jadwal padat akhirnya membuahkan hasil. Nama Aisha berhasil berada di urutan pertama pada pengumuman babak penyisihan dan membawanya melaju ke final tingkat nasional di Surakarta. Hasil tersebut sekaligus menjadi titik yang mengembalikan rasa percaya dirinya untuk kembali aktif berkompetisi.

Menjelang babak final, rasa gugup tetap menghampiri dirinya. Aisha mengaku sempat khawatir lupa narasi dan kehilangan fokus saat tampil di depan dewan juri. Rasa cemas itu semakin terasa karena ia membawa harapan besar setelah berhasil lolos hingga tahap nasional.

Untuk menenangkan diri, Aisha memilih merekam dirinya sendiri menggunakan kamera ponsel sambil meluapkan rasa gugup yang dirasakan sebelum tampil. Cara sederhana tersebut perlahan membuatnya lebih tenang dan mampu kembali fokus pada penampilannya di atas panggung.

Usahanya tidak sia-sia. Penampilan Aisha di babak final berhasil mengantarkannya meraih Juara Ketiga tingkat nasional. Kemenangan itu menjadi pengalaman yang berkesan baginya karena berhasil membuktikan bahwa dirinya masih memiliki semangat untuk terus berkembang di dunia kompetisi.

“Yang terpenting adalah berusaha dulu. Menang atau tidak, itu urusan belakangan,” kata Aisha.

Setelah mengikuti kompetisi di Surakarta, Aisha mulai lebih percaya diri mencoba berbagai tantangan baru tanpa meninggalkan tanggung jawab akademik. Ia bahkan memiliki metode belajar yang cukup unik untuk menjaga konsistensi nilainya di perkuliahan, yaitu dengan membayangkan setiap mata kuliah sebagai karakter dengan cerita masing-masing.

Menurut Aisha, cara tersebut membuat proses belajar terasa lebih menyenangkan dan membantunya memahami materi dengan lebih mudah. Ia juga merasa bahwa imajinasi yang selama ini membantunya di dunia storytelling ternyata dapat diterapkan dalam proses belajar sehari-hari. Baginya, keberanian untuk memulai menjadi langkah penting untuk menemukan potensi yang mungkin belum pernah disadari sebelumnya.

 





Editor             : Rahma Aurella – 3A D4 Bahasa Inggris untuk KBP

Narasumber   : Aisha Rona Zalila, Mahasiswi Bahasa Inggris PNP


Previous Post Next Post