Diva Ramadhan Fianda meraih medali perak cabang karate kategori kata beregu pada ajang PORSENI 2024 di Politeknik Negeri Malang, Senin (22 Juli 2024).
Foto: Diva Ramadhan Fianda
CREWPERS.ID
– Selama hampir sembilan tahun, karate
telah menjadi bagian penting dalam kehidupan Diva Ramadhan Fianda. Mahasiswi
Jurusan Administrasi Niaga Politeknik Negeri Padang asal Bukittinggi ini mulai
mengenal karate sejak duduk di bangku kelas 1 SMP dan terus menggelutinya
hingga sekarang, meski sempat melewati berbagai tantangan, tekanan, hingga fase
ingin menyerah.
Ketertarikannya
pada karate bermula dari hal sederhana. Saat masih kecil, Diva sering melihat
orang-orang berlatih karate di dekat rumahnya setiap sore. Rasa penasaran
membuatnya mencoba ikut latihan, hingga akhirnya merasa bahwa olahraga tersebut
memang cocok untuk dirinya. Ia mengungkapkan bahwa dari pengalaman itulah
keyakinannya untuk menekuni karate mulai tumbuh.
Perjalanan
Diva di dunia karate dimulai dari latihan dasar seperti pukulan, tendangan,
gerakan kaki, hingga latihan fisik dan kelincahan. Seiring waktu, latihan
tersebut membentuk kedisiplinan dan mentalnya sebagai atlet. Dukungan orang tua
juga menjadi faktor penting yang membuatnya bertahan menjalani proses panjang
ini.
Sejak
awal, Diva mengaku sudah memiliki tekad untuk serius menjadi atlet karate. Ia
ingin membuktikan bahwa dirinya mampu berkembang dan meraih prestasi melalui
olahraga yang ditekuninya. Dalam kesehariannya, Diva rutin berlatih tiga kali
seminggu, yakni setiap Selasa, Kamis, dan Jumat. Namun, intensitas latihan
meningkat ketika mendekati pertandingan, dengan persiapan yang dilakukan hampir
setiap hari agar performa tetap optimal saat bertanding.
Meski
begitu, perjalanan sebagai atlet tidak selalu berjalan mulus. Diva pernah
mengalami fase jenuh dan kehilangan semangat latihan. Kesibukan lain, rasa
malas, hingga tekanan mental sempat membuatnya merasa kemampuan yang
dimilikinya mulai memudar. Ia pernah mengakui bahwa ada masa ketika ia merasa
potensinya sudah tidak ada lagi, dan hal itu terasa cukup berat karena usaha
yang dilakukan belum menunjukkan hasil sesuai harapan.
Namun,
perasaan tersebut tidak membuatnya berhenti sepenuhnya. Ia memilih untuk
kembali mengingat tujuan awalnya berkecimpung di dunia karate dan perlahan
membangun semangat dari awal. Selain tantangan dari dalam diri, Diva juga
pernah menghadapi persaingan yang menurutnya kurang sehat di lingkungan
pertandingan. Pengalaman tersebut justru membuatnya belajar untuk lebih kuat
secara mental dan fokus pada perkembangan diri dibanding memikirkan orang lain.
Pengalaman
paling menantang ia rasakan saat mengikuti kejuaraan di Universitas Negeri
Padang. Pada babak pertama, ia langsung bertemu atlet nasional. Meskipun sadar
lawannya jauh lebih kuat, Diva tetap berusaha memberikan kemampuan terbaiknya
di arena pertandingan.
Perjuangan
panjang itu tidak datang tanpa hasil. "Sejauh ini, saya sudah meraih
beberapa prestasi di bidang karate, di antaranya pernah mendapatkan juara 2
pada ajang O2SN, meraih juara 2 di beberapa kejuaraan daerah se-Sumatera Barat,
mendapatkan medali emas pada Kejurda tahun 2024, serta meraih juara 2 pada
PORSENI. Prestasi-prestasi tersebut menjadi pengalaman yang sangat berharga
bagi saya dan menjadi motivasi untuk terus berkembang di dunia karate,"
ungkapnya.
Di
antara semua pertandingan itu, PORSENI di Malang tahun 2024 menjadi yang paling
berkesan baginya. Tidak hanya karena pertandingan, tetapi juga suasana dan
perjalanan yang meninggalkan kenangan indah selama ia berkarier sebagai atlet.
Menurutnya,
dalam karate mental memegang peran yang sangat penting. Teknik yang baik tidak
akan maksimal tanpa keberanian, fokus, dan rasa percaya diri yang kuat saat berada
di atas matras. “Sehebat apa pun teknik yang dimiliki, kalau mental tidak
kuat hasilnya juga tidak akan maksimal,” ujarnya.
Kini,
cara pandang Diva terhadap pertandingan mulai berubah. Jika dulu ia hanya fokus
pada menang dan kalah, sekarang ia lebih memahami bahwa pertandingan adalah
proses belajar yang membentuk pengalaman dan kedewasaan mental seorang atlet.
Ia menambahkan bahwa karate bukan sekadar olahraga atau bela diri, melainkan
sudah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Saat
ini, Diva mengaku menjalani karate dengan lebih santai dibanding sebelumnya. Ia
mulai menyeimbangkan fokus antara dunia olahraga, perkuliahan, dan target hidup
lainnya. Meski demikian, semangatnya tidak pernah padam. Karate telah
mengajarkannya banyak hal tentang kehidupan, mulai dari disiplin, tanggung
jawab, menerima kekalahan, hingga memahami arti perjuangan dan proses.
Ke
depan, Diva menargetkan untuk bisa berlaga di tingkat nasional dan terus
berkembang sebagai atlet. Ia juga berharap dapat dikenal bukan hanya karena
prestasi, tetapi juga karena sikap rendah hati dan mental kuat yang
dimilikinya. Ia pun berpesan kepada siapa saja yang ingin menekuni karate agar
tidak takut memulai, karena proses memang tidak selalu mudah, tetapi hasil akan
datang bagi mereka yang disiplin dan konsisten menjalaninya.
Jurnalis
: Aflah Nadirah Amnelia – 3A D4 Bahasa
Inggris untuk KBP
Editor : Regina Putri – 3A D4 Bahasa Inggris
untuk KBP
