PARIAMAN - Di sebuah sudut Kota Pariaman, suara tabuhan tambur tidak lagi
sekadar menjadi pengiring upacara adat. Di tangan sekelompok anak muda yang
tergabung dalam Darak Badarak, bunyi kulit perkusi yang beradu dengan kayu
tersebut bertransformasi menjadi sebuah simfoni yang luar biasa indah dan penuh
energi. Mereka membuktikan bahwa tradisi tidak harus selalu terasa tua dan kaku.
Jika biasanya musik tradisi identik dengan suasana formal yang
tenang, Darak Badarak hadir untuk mendobrak stereotipe tersebut. Mengenakan
pakaian khas dengan sentuhan gaya kontemporer, mereka tampil dengan energi yang
nyaris meluap di atas panggung. Setiap pukulan drum, tiupan sarunai, hingga
petikan kecapi yang mereka mainkan tidak hanya menghasilkan nada, tetapi juga
membawa cerita tentang identitas budaya yang menolak untuk pudar ditelan zaman.
“Kami ingin menunjukkan bahwa musik Minang itu keren, tidak kalah
dengan musik Barat,” ujar salah satu personel Darak Badarak dalam sebuah sesi
latihan. Semangat membara inilah yang membawa mereka melakukan perjalanan jauh,
dari jalanan Pariaman hingga berhasil menembus panggung megah Indonesia’s Got
Talent. Di sana, mereka memukau para juri dan jutaan pasang mata melalui
aransemen musik yang sangat unik.
Nama “Darak Badarak” sendiri memiliki arti yang sangat mendalam
dalam bahasa Minang, menggambarkan bunyi derak yang kuat, tegas, dan terjadi
secara beruntun. Nama ini seolah-olah menjadi doa bagi setiap langkah mereka.
Di mana pun mereka berada, suara mereka harus terdengar lantang, menggetarkan
lantai panggung, dan yang paling penting mampu menggetarkan hati setiap
pendengarnya.
Keunikan utama Darak Badarak terletak pada keberanian mereka dalam
mencampur berbagai genre musik. Jangan kaget jika di tengah dentuman gandang
tambua yang berulang, penonton tiba-tiba mendengar harmoni vokal modern atau
transisi ritme yang mengingatkan pada energi musik rock. Perpaduan ini
menciptakan sebuah jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan selera generasi
masa kini.
Lebih dari sekadar grup musik, Darak Badarak sebenarnya adalah
sebuah komunitas yang hangat. Di bawah bimbingan sang pendiri, Ribut Anton
Sujarwo, grup ini menjadi wadah bagi anak-anak muda Pariaman untuk
menyalurkan energi kreatif mereka ke arah yang positif.
Di tengah gempuran tren digital yang serba instan, anak-anak muda
ini memilih jalan yang berbeda. Mereka memilih untuk berkumpul, berkeringat,
dan berlatih keras selama berjam-jam demi menyempurnakan satu ketukan saja.
Disiplin dan kebersamaan inilah yang menjadi rahasia kekuatan penampilan mereka
yang selalu tampak kompak dan harmonis.
Kesuksesan Darak Badarak menjadi pesan kuat bagi para seniman di
Sumatera Barat bahwa akar budaya bukanlah sebuah penghambat kemajuan. Justru
dengan tetap berpijak pada nilai-nilai lokal, mereka berhasil menciptakan
“bahasa universal” yang dapat dinikmati oleh siapa saja, bahkan tanpa harus
memahami bahasa Minang.
Mereka telah membuktikan bahwa dengan kreativitas dan kerja keras,
musik tradisional bisa “naik kelas” dan bersaing di level nasional bahkan
internasional. Darak Badarak menjadi bukti nyata bahwa detak jantung tradisi
akan terus berdenyut selama ada generasi muda yang bangga menjaganya.
Jurnalis : Mohammad Alfariji Herman 3B D4 Bahasa Inggris KBP
Editor : Zahira Yelsa Ilyana 3B D4 Bahasa Inggris KBP
