Kondisi
kesehatan masyarakat di sejumlah wilayah Sumatera Barat masih menjadi perhatian
pada awal 2026 setelah bencana banjir dan longsor yang melanda beberapa daerah
sebelumnya. Selain menimbulkan kerusakan lingkungan, bencana tersebut juga
meningkatkan risiko munculnya berbagai penyakit di tengah masyarakat.
Berdasarkan
laporan dari Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia, sejumlah penyakit ditemukan di wilayah terdampak bencana dan masih
menjadi bagian dari pemantauan kesehatan hingga awal 2026. Beberapa di
antaranya meliputi demam, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), serta
gangguan pencernaan.
Data
Kementerian Kesehatan mencatat terdapat 376 kasus demam, 201 kasus myalgia atau
nyeri otot, 120 kasus gatal-gatal, 118 kasus gangguan pencernaan, serta 116
kasus ISPA di sejumlah wilayah terdampak banjir dan longsor. Selain itu juga
ditemukan 77 kasus hipertensi, 62 kasus luka, 46 kasus sakit kepala, serta masing-masing
40 kasus diare dan asma.
Kasus
demam tercatat menjadi keluhan kesehatan paling banyak ditemukan di beberapa
wilayah seperti Pasaman, Pasaman Barat, Agam, Pesisir Selatan, dan Tanah Datar.
Kondisi ini menjadi perhatian karena penyakit yang muncul setelah bencana
sering berkaitan dengan perubahan lingkungan serta keterbatasan fasilitas
sanitasi.
Kondisi
lingkungan pascabencana menjadi salah satu faktor yang memicu munculnya
gangguan kesehatan tersebut. Lingkungan yang lembap, keterbatasan air bersih,
serta kondisi tempat tinggal sementara di lokasi pengungsian dapat meningkatkan
risiko penyebaran penyakit di tengah masyarakat.
Menurut
laporan Badan
Nasional Penanggulangan Bencana, situasi pascabencana memang kerap memicu munculnya berbagai
penyakit di wilayah terdampak. Dalam keterangannya disebutkan bahwa penyakit
yang sering ditemukan setelah bencana antara lain ISPA, demam, hipertensi,
infeksi kulit, dan alergi.
Kepala
Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan, Agus Jamaludin, mengatakan pemantauan kesehatan masyarakat
di wilayah terdampak masih terus dilakukan hingga 2026.
“Kami
terus melakukan pemantauan kondisi kesehatan masyarakat di daerah terdampak
bencana serta memastikan layanan kesehatan tetap tersedia bagi warga yang
membutuhkan,” ujarnya.
Menanggapi
kondisi tersebut, pemerintah bersama tenaga kesehatan melakukan berbagai
langkah penanganan di lapangan. Tim medis diturunkan ke sejumlah wilayah
terdampak untuk memberikan pelayanan kesehatan serta melakukan pemeriksaan bagi
warga yang mengalami keluhan kesehatan.
Selain
pelayanan kesehatan langsung, pemerintah daerah juga memperkuat program
kesehatan masyarakat. Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat menjalankan
berbagai upaya seperti peningkatan layanan kesehatan di puskesmas serta kampanye
Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) guna meningkatkan kesadaran masyarakat
dalam menjaga kesehatan diri dan lingkungan.
Melalui
berbagai upaya tersebut, diharapkan kondisi kesehatan masyarakat di Sumatera
Barat dapat terus membaik. Selain dukungan pemerintah dan tenaga medis,
kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan serta menerapkan pola
hidup sehat juga menjadi faktor penting dalam mencegah munculnya penyakit
pascabencana.
Jenis Berita : Softnews
Penulis :
Meliza – 3A D4 Bahasa Inggris untuk KBP
Editor :
Delia Novitri Delin – 3A D4 Bahasa Inggris untuk KBP
