Stunting di Sumbar Masih 24,9 Persen, Pemprov Aktifkan 60 Nagari Generasi Emas


Sumber : BAPPEDA Kabupaten Agam


Upaya penurunan stunting masih menjadi perhatian pemerintah daerah di Sumatera Barat seiring masih tingginya jumlah balita yang mengalami gangguan pertumbuhan. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) memperkuat langkah percepatan penurunan stunting melalui program unggulan Nagari Generasi Emas yang difokuskan pada 60 nagari sebagai model intervensi terpadu.

Langkah ini diambil setelah data terbaru menunjukkan prevalensi stunting di Sumatera Barat masih cukup tinggi. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting di Sumatera Barat tercatat 24,9 persen, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berada pada kisaran 23,6 persen. Angka tersebut menunjukkan hampir seperempat balita di provinsi tersebut mengalami stunting sehingga membutuhkan penguatan program intervensi gizi.

Pemerintah daerah menargetkan penurunan angka stunting hingga 20,5 persen pada tahun 2025 melalui berbagai program kesehatan dan pemberdayaan masyarakat di tingkat nagari.

Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, menekankan pentingnya sinergi hingga tingkat nagari untuk memastikan asupan gizi ibu hamil dan balita tetap terjaga.

“Stunting ini menyangkut masa depan generasi kita, maka intervensi harus dilakukan secara holistik mulai dari tingkat keluarga berisiko,” ujar Mahyeldi dalam Rapat Koordinasi Regional di Padang.

Selain program Nagari Generasi Emas, pemerintah juga menggalakkan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) yang menyasar 20.924 keluarga berisiko stunting di wilayah Sumatera Barat.

Program ini mencakup sejumlah intervensi kesehatan, seperti pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil dengan Kurang Energi Kronis (KEK), edukasi gizi bagi remaja putri untuk mencegah anemia, serta pemanfaatan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah pusat.

Di tingkat nagari, kader posyandu juga mulai memperkuat edukasi gizi bagi keluarga yang memiliki balita. Kegiatan posyandu tidak hanya melakukan penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan anak, tetapi juga memberikan pendampingan kepada ibu balita terkait pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang bergizi.

Para kader kesehatan turut mengenalkan pemanfaatan bahan pangan lokal seperti ikan, telur, dan sayuran untuk meningkatkan asupan protein bagi anak. Edukasi ini menjadi penting karena periode seribu hari pertama kehidupan anak merupakan fase krusial dalam mencegah terjadinya stunting.

Pemerintah daerah berharap berbagai program tersebut dapat memperkuat upaya pencegahan stunting di tingkat keluarga dan masyarakat. Selain dukungan pemerintah, partisipasi masyarakat dalam menjaga pola makan bergizi serta kesehatan ibu dan anak juga menjadi faktor penting dalam menekan angka stunting di Sumatera Barat.

 




Penulis            : Ma’isyah Saidah – 3A D4 Bahasa Inggris untuk KBP

Editor              : Delia Novitri Delin – 3A D4 Bahasa Inggris untuk KBP


Previous Post Next Post