Dentingan
piring yang saling berbenturan mengikuti irama musik tradisional menciptakan
suasana yang khas dalam sebuah pertunjukan tari. Gerakan tangan yang lincah dan
langkah kaki yang cepat membuat penonton terpukau. Bagi sebagian orang yang
pertama kali menyaksikannya, tarian ini sering dianggap berkaitan dengan unsur
mistis, karena para penari mampu menari di atas pecahan piring tanpa terluka.
Namun di balik keindahannya, Tari Piring sebenarnya menyimpan teknik, latihan
panjang, serta filosofi budaya yang mendalam.
Tari
Piring merupakan salah satu kesenian tradisional yang berasal dari masyarakat
Minangkabau di Sumatera Barat. Tarian ini dikenal melalui gerakan yang cepat
dan dinamis sambil memegang dua piring di telapak tangan. Dalam berbagai
kesempatan, Tari Piring sering ditampilkan dalam acara adat, festival budaya,
hingga penyambutan tamu penting.
Menurut
penjelasan dalam artikel Kompas.com, Tari Piring pada awalnya berkaitan dengan
tradisi masyarakat agraris Minangkabau. Tarian ini dahulu dipersembahkan
sebagai bentuk rasa syukur masyarakat kepada Tuhan atas hasil panen yang
melimpah. Seiring waktu, fungsi tersebut berkembang menjadi pertunjukan seni
yang tetap mempertahankan nilai-nilai budaya masyarakat setempat.
Salah
satu bagian yang paling menarik perhatian penonton adalah ketika piring yang
digunakan dijatuhkan hingga pecah di lantai. Setelah itu, para penari tetap
melanjutkan tarian dengan berjalan di atas pecahan piring tersebut. Adegan ini
sering menimbulkan kesan mistis bagi sebagian penonton. Padahal, kemampuan
tersebut diperoleh melalui teknik khusus serta latihan yang dilakukan secara
disiplin dan berulang.
Budayawan
Minangkabau Dr. Rinaldi, M.Hum. menegaskan bahwa kekuatan dalam Tari Piring
tidak berkaitan dengan unsur gaib. “Tari Piring tidak berkaitan dengan ilmu
hitam. Penari mampu melakukannya karena latihan yang disiplin, teknik
keseimbangan tubuh, serta pemahaman terhadap gerakan tarinya,” ujar Rinaldi.
Selain
menampilkan keterampilan teknik yang tinggi, setiap gerakan dalam Tari Piring
juga memiliki makna simbolis. Gerakan tangan yang memutar piring melambangkan
kegembiraan dan rasa syukur masyarakat setelah masa panen. Sementara langkah
kaki yang tetap mantap di atas pecahan piring menggambarkan keteguhan hati
dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Bagi
masyarakat Minangkabau, Tari Piring bukan sekadar pertunjukan seni. Tarian ini
merupakan warisan budaya yang mengajarkan nilai kebersamaan, rasa syukur, serta
kerja keras. Melalui latihan yang berkelanjutan dan pemahaman terhadap filosofi
tarian, generasi muda terus berupaya menjaga tradisi ini agar tetap hidup di
tengah perubahan zaman.
sumber berita :
https://www.kompas.com/skola/read/2021/01/30/151500769/tari-piring-tarian-tradisional-khas-minangkabau
https://vt.tiktok.com/ZSuAnJnAP/
Jurnalis : Vadini Dwi Susanti 3B D4
Bahasa Inggris Kbp
Edito : Zahira Yelsa Ilyana 3B D4 Bahasa
Inggris Kbp
