Di Balik Kebiasaan Ngopi Mahasiswa Tersimpan Dampak yang Tak Disadari

Ilustrasi dua pemuda sedang mengerjakan tugas menggunakan laptop dan ponsel di sebuah kedai kopi dengan sajian kopi di atas meja.

Foto: Pinterest (Indra Tanata)



CREWPERS.ID – Di tengah padatnya aktivitas kuliah, kopi telah menjadi bagian dari keseharian banyak mahasiswa. Bukan sekadar minuman, kopi kini berperan sebagai penopang untuk menjaga fokus, mengusir kantuk, dan membantu menyelesaikan berbagai tuntutan akademik. Namun, di balik manfaat tersebut, kebiasaan ini juga menyimpan dampak yang kerap tidak disadari.

Bagi Divia Putri Zen (21), mahasiswi Jurusan Bahasa Inggris Politeknik Negeri Padang, kebiasaan minum kopi bermula dari rasa penasaran. Ia mengaku awalnya heran melihat orang-orang begitu menikmati minuman yang menurutnya biasa saja. Namun, setelah mencoba berbagai jenis kopi, mulai dari Kopi Pablo, Kopi Azol, hingga Kopi Ajoe, ia mulai memahami daya tariknya. Seiring waktu, kebiasaan itu berkembang menjadi rutinitas harian yang sulit dilepaskan.

"Kalau sehari nggak ketemu kopi itu rasanya kayak ada yang kurang. Malahan kayak gelisah-gelisah kalau nggak ada kopi," ujarnya.

Ketika kopi dari kedai tidak tersedia, Americano sachet atau Nescafe instan menjadi penggantinya. Dalam kesehariannya, kopi kerap menemaninya mengerjakan tugas, baik di kos maupun di kafe. Minuman ini dianggapnya mampu membantu menjaga fokus dan semangat, terutama saat harus menyelesaikan pekerjaan hingga larut malam.

"Kalau lagi banyak tugas, biasanya butuh kopi yang strong biar nggak ngantuk," ujarnya.

Hal serupa juga dialami oleh Rahma Aurella (21), mahasiswi Jurusan Bahasa Inggris Politeknik Negeri Padang. Ia mengenal kopi jauh sebelum kuliah, sejak SMP dan SMA, dipengaruhi oleh kebiasaan sang ayah di rumah.

"Ngeliat Bapak minum kopi, kelihatan enak," kenangnya. Kini, kopi menjadi bagian dari rutinitasnya, terutama saat menghadapi tekanan tugas kuliah yang menumpuk.

Bagi Rahma, kopi bukan hanya soal kafein. Ia menyebutnya sebagai comfort drink, minuman yang memberi rasa tenang sekaligus membantu tubuh tetap terjaga.

"Ngaruh, bikin lebih semangat atau fokus. Energinya jadi keisi juga," katanya.

Rahma juga melihat fenomena ini lebih luas dari sekadar kebutuhan pribadi. Menurutnya, kebiasaan ngopi di kalangan mahasiswa turut dibentuk oleh lingkungan sosial dan tren yang berkembang.

"Biasanya karena teman ngemil atau minum buat tugas. Juga, mungkin karena biasanya orang nugas di kafe, jadi rata-rata jualnya kopi. Tambah sekarang lagi tren juga, starling banyak banget di jalan," tuturnya.

Namun di balik manfaat yang dirasakan, keduanya tidak menutup mata terhadap efek samping yang mulai muncul. Rahma mengaku pernah merasakan jantung berdebar dan rasa tidak nyaman pada perut, terutama saat kopi diminum dalam kondisi perut kosong.

"Kadang deg-degan sering. Terus kalau belum makan bisa bikin mual juga," katanya.

Sementara itu, Divia merasakan dampak lain berupa gangguan tidur ketika konsumsi kopinya tidak terkontrol. Akibatnya, tubuhnya terasa kurang fit keesokan harinya lantaran waktu istirahat yang berkurang.

Kondisi yang mereka alami sejalan dengan penjelasan medis. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2024) menyebutkan bahwa konsumsi kafein berlebihan dapat memicu berbagai gangguan, seperti jantung berdebar, peningkatan hormon adrenalin, hingga gangguan tidur. Kafein yang masuk ke dalam tubuh dapat merangsang sistem saraf pusat dan meningkatkan detak jantung, bahkan dalam kondisi tertentu dapat memicu takikardia.

Selain itu, Halodoc (2022) menjelaskan bahwa meskipun kafein dapat membantu meningkatkan kewaspadaan, konsumsi yang berlebihan juga berpotensi menyebabkan gangguan pencernaan, kecemasan, serta kesulitan tidur. Dalam beberapa kasus, konsumsi yang tidak terkontrol juga dapat menimbulkan ketergantungan, yang ditandai dengan gejala seperti gelisah, sakit kepala, perubahan suasana hati, hingga sulit berkonsentrasi ketika tidak mengonsumsi kafein.

Karena itulah Rahma memilih untuk mulai membatasi konsumsinya. Dari sekitar sepuluh kali sebulan, ia menekan kebiasaan itu hingga di bawah lima kali. "Akhir-akhir ini lagi jalanin karena setahu aku kafeinnya cukup tinggi. Juga bisa bikin gigi kuning, jadi sedikit mengurangi," akunya.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2024) juga menyarankan batas aman konsumsi kafein bagi orang dewasa sehat adalah sekitar 400 miligram per hari, atau setara dengan dua hingga empat cangkir kopi. Meski demikian, respons tubuh setiap orang dapat berbeda, sehingga penting untuk memperhatikan tanda-tanda yang muncul setelah mengonsumsi kopi.

Divia dan Rahma adalah dua dari sekian banyak mahasiswa yang menjalani ritme yang sama: tugas datang, kopi diseduh, malam berlalu. Masing-masing sudah memahami risikonya, namun kebutuhan untuk tetap terjaga dan menyelesaikan tanggung jawab sering kali membuat kopi tetap menjadi pilihan.



 

Jenis berita      : Feature 

Penulis            : Delia Novitri Delin – 3A D4 Bahasa Inggris KBP

Editor              : Melani Azkarima – 3B D4 Bahasa Inggris KBP

 

Previous Post Next Post