Suasana
sore hari di Universitas Andalas, Padang, Selasa (7 April 2026) pukul 18.11
WIB. Sejumlah mahasiswa tampak melakukan
jogging di kawasan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, memanfaatkan udara segar serta
pemandangan alam di lingkungan kampus.
Foto:
Faidi Julio Ricardo / Crewpers
CREWPERS.ID
- Dalam
beberapa tahun terakhir, tren lari di kalangan Gen Z di Indonesia semakin
meningkat dan menjelma menjadi bagian dari gaya hidup modern anak muda.
Fenomena ini tidak hanya didorong oleh kesadaran akan pentingnya kesehatan,
tetapi juga oleh FOMO (fear of missing out) yang memberikan dampak
positif.
Dalam laporan tahun 2025, Strava mencatat
sekitar 75% Gen Z menjadikan lari sebagai olahraga paling populer di
platformnya. Hal
ini menunjukkan bahwa lari tidak hanya diminati, tetapi juga telah menjadi tren
yang berkembang pesat di kalangan anak muda. Lari kini tidak lagi sekadar
aktivitas fisik, melainkan juga bagian dari gaya hidup sehat yang terlihat
menarik dan relevan di era digital.
Anisa (16), pelajar
SMA 9 Negeri Padang, menjadi salah satu contoh bagaimana FOMO dapat
membawa perubahan positif. Ia mengaku mulai berlari karena ikut-ikutan tren FOMO.
Kini, ia rutin berlari sekali dalam seminggu dan merasakan manfaatnya. “Badan
jadi lebih kuat,” ujarnya. Meski banyak orang memilih berlari bersama teman,
Anisa justru lebih nyaman melakukannya sendiri. Menurutnya, berlari sendiri
membuatnya bisa menyesuaikan kecepatan dan daya tahan. Ia juga menilai fenomena
FOMO ini sebagai sesuatu yang baik. “Lebih bagus FOMO olahraga
daripada hal yang nggak penting,” ujarnya sambil tersenyum.
Hal serupa
juga dirasakan Sintia Anggraini (20) mahasiswa Hubungan Internasional
Universitas Andalas. Ia mulai berlari karena melihat aktivitas serupa di media
sosial dan menganggap olahraga ini santai sekaligus menyenangkan. Kini, ia
rutin berlari dua hingga tiga kali dalam seminggu. “Iya banget, awalnya karena FOMO,”
ungkapnya. Setelah rutin berlari, Sintia merasakan tubuhnya menjadi lebih
ringan dan staminanya meningkat.
Berbeda
dengan Anisa, Sintia lebih menyukai berlari bersama teman. Baginya, kebersamaan
membuat aktivitas lari menjadi lebih menyenangkan. “Lebih seru, bisa ngobrol
juga jadi nggak bosan,” katanya. Ia bahkan melihat gejala FOMO sebagai
peluang untuk mendorong lebih banyak orang menjalani gaya hidup sehat. “Semakin
banyak yang ikut-ikutan, makin banyak juga yang jadi sehat,” tambahnya.
FOMO tidak selalu berdampak negatif. Bagi Gen Z, dorongan
untuk tidak tertinggal tren justru dapat memotivasi terbentuknya kebiasaan
positif. Seiring semakin kuatnya pengaruh media sosial, tren lari diperkirakan
akan terus berkembang dan menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari generasi
muda.
Jenis Berita:
Softnews
Jurnalis:
Faidi Julio Ricardo – 3B D4 Bahasa Inggris Untuk KBP
Editor: Regina Putri – 3A
D4 Bahasa Inggris Untuk KBP
