![]() |
Nadira
Silviana saat bertanding pada nomor Kata perorangan putri dan Kata beregu putri
dalam ajang PORSENI XIV 2024 di Malang, Jawa Timur.
|
Foto:
Nadira Silviana CREWPERS.ID - Di usia ketika
kebanyakan anak masih sibuk bermain, Nadira Silviana justru mulai mengenal
dunia karate sejak duduk di bangku kelas 2 SD. Nadira Silviana lahir
di Padang pada 21 Juli 2005 dan saat ini aktif sebagai mahasiswi Politeknik
Negeri Padang pada Program Studi Teknologi Rekayasa Instalasi Listrik. Ketertarikannya
muncul dari tontonan film The Karate Kid yang membuatnya penasaran
dengan seni bela diri tersebut. Namun, perjalanan Nadira menuju karate tidak
dimulai dari keinginan pribadi. Sebelumnya, ia adalah seorang anak yang aktif
menari. Namun, kegiatan menari harus ia tinggalkan saat memasuki kenaikan kelas
2 SD karena sistem sekolah full day yang menyulitkannya menyesuaikan
jadwal. Di titik itulah, sang ayah menawarkan karate sebagai alternatif. Tanpa
banyak pertimbangan, Nadira menerima tawaran tersebut. Awalnya, ia membayangkan
latihan karate akan terasa berat dan melelahkan. Namun, seiring waktu, persepsi
itu berubah. Baginya, jika dijalani dengan bahagia dan ikhlas, rasa lelah akan
terasa ringan, bahkan menghilang. Langkah awal Nadira di dunia kompetisi dimulai saat ia duduk di kelas 4 SD. Kejuaraan pertamanya berlangsung di Dharmasraya pada tahun 2014. Meski belum berhasil meraih juara, pengalaman tersebut menjadi pijakan penting. Dua tahun kemudian, pada 2016, ia kembali mengikuti pertandingan dalam kejuaraan karate yang diadakan oleh UKM Pandekar UNAND, yang terdiri dari kategori antar mahasiswa dan open tournament. Di sinilah Nadira meraih medali pertamanya, yaitu perunggu. Meski bukan emas, momen berdiri di podium menjadi pengalaman berharga yang memotivasinya untuk terus berkembang.
Fokus latihan Nadira semakin terarah, terutama pada basic kata
yang menjadi kekuatannya. Ia terus meningkatkan kemampuan agar dapat bersaing
di tingkat yang lebih tinggi. Namun, perjalanan seorang atlet tentu tidak
selalu mulus. Kegagalan paling membekas baginya terjadi pada ajang Bukittinggi Wisata
Karate Cup 2018 di GOR Bermawi, Bukittinggi. Nadira telah mempersiapkan diri
secara maksimal. Intensitas latihannya meningkat drastis, dari dua kali
seminggu menjadi hampir setiap hari, dengan tambahan latihan privat dan fisik.
Ia berangkat dengan harapan membawa pulang medali. Namun, harapan itu pupus
ketika ia kalah di babak kedua. Hal tersebut membuatnya sangat kecewa hingga
memilih pulang ke Padang bersama orang tuanya, terpisah dari tim. Dari
pengalaman tersebut, ia belajar bahwa sekeras apa pun usaha, jika memang belum
menjadi takdir, hasil yang diinginkan belum tentu bisa diraih. Bagi Nadira, tantangan terbesar sebagai atlet bukanlah latihan fisik,
melainkan konsistensi. “Konsisten, itu hal tersulit menurut saya sebagai
seorang atlet karena untuk maju dan menjadi lebih baik harus punya konsistensi
dalam niat, tujuan, terutama dalam latihan,” ujarnya. Ia menyadari bahwa
memulai dan mengakhiri sesuatu itu mudah, tetapi mempertahankan komitmen adalah
hal yang paling sulit. Dalam perjalanan panjangnya, ia juga pernah merasa ingin
menyerah. Namun, ia selalu teringat perjuangan yang telah ditempuh serta
pengorbanan orang tua yang senantiasa mendukungnya. Berbagai kejuaraan telah ia ikuti, mulai dari Kejuaraan Daerah INKADO
Sumbar, kejuaraan karate terbuka se-Sumatera, Bukittinggi Wisata Karate Cup,
O2SN SMP tingkat kota, hingga kejuaraan antar mahasiswa se-Sumatera Barat. Dari
sekian banyak pengalaman, yang paling berkesan baginya adalah PORSENI ke-XIV
tahun 2024 di Malang. Dengan waktu persiapan yang singkat, Nadira berhasil
menyumbangkan dua medali sekaligus, yaitu perak dan perunggu, serta turut
mengharumkan nama Politeknik Negeri Padang. Saat ini, rutinitas latihan Nadira lebih banyak ia lakukan secara
mandiri di rumah karena kesibukan kuliah yang padat. Meski demikian,
semangatnya tidak luntur. Ia memiliki cara tersendiri untuk mengatasi rasa
gugup sebelum bertanding, yakni dengan melakukan gerakan-gerakan kecil, berdoa,
serta meminta restu dari orang tua dan pelatih. Bagi Nadira, karate bukan sekadar olahraga, melainkan “rumah yang selalu
terbuka.” Sejauh apa pun ia melangkah, karate menjadi tempatnya kembali, sebuah
ruang untuk mencari tantangan dan membuktikan kualitas diri. Ia menggambarkan
karate sebagai siklus pasang surut, bukan rutinitas yang membosankan. Nadira berharap dapat menjadi pribadi yang lebih konsisten, membayar
keberuntungan dengan kualitas, menjadikan karate sebagai sarana pelepas stres,
mengharumkan nama kampus, serta menutup masa kuliahnya dengan pembuktian bahwa
ia masih mampu bersaing dan melawan rasa malas dalam dirinya. Jurnalis:
Sherlina Dwi Putri – 3A D4 Bahasa Inggris untuk KBP
Editor:
Regina Putri – 3A D4 Bahasa Inggris untuk KBP |
