Asah Kemampuan Komunikasi Mahasiswa Lewat Jurusan Bahasa Inggris PNP

 

Suasana perkuliahan mahasiswa di salah satu kelas Jurusan Bahasa Inggris Politeknik Negeri Padang pada 9 Maret 2026.

Foto: Ivana Anindya Mulkan / Crewpers.

CREWPERS.ID – Kemampuan bahasa Inggris tidak lagi menjadi satu-satunya bekal yang perlu dimiliki mahasiswa di era perkembangan teknologi dan dunia kerja saat ini. Mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris Politeknik Negeri Padang (PNP) kini dituntut mengembangkan keahlian non-teknis melalui berbagai kegiatan. Kemampuan beradaptasi dengan dinamika digital dan pengalaman berorganisasi menjadi modal penting untuk bersaing.

Didirikan pada tahun 2009, jurusan ini terus mendorong mahasiswa agar tidak hanya terpaku pada nilai akademik. Peningkatan jumlah peminat pada Program Studi Diploma Empat Bahasa Inggris dari tahun ke tahun menjadi bukti tingginya kepercayaan masyarakat. Hal ini memicu program studi untuk terus menjaga relevansi kurikulum dengan kebutuhan industri modern.

Sekretaris Jurusan Bahasa Inggris PNP, Gilang Surendra, S.I.P., M.I.Kom., menjelaskan bahwa orientasi pengembangan mahasiswa kini juga meluas pada kemampuan pendukung. Pihak jurusan berupaya keras menyeimbangkan pendalaman linguistik dengan keterampilan praktis yang dibutuhkan dunia kerja.

“Yang pasti yang ingin dikembangkan di Jurusan Bahasa Inggris sebenarnya yaitu ilmu bahasa  mahasiswa, selain itu juga soft skills mahasiswa, termasuk public speaking dan kemampuan media sosial,” ujarnya.

Menurutnya, kehadiran kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) juga ikut memengaruhi metode pembelajaran di tingkat perguruan tinggi. Pemanfaatan teknologi ini harus disikapi secara bijak oleh seluruh civitas akademika agar tidak mematikan daya kritis. Gilang juga menegaskan bahwa AI sejatinya digunakan sebagai instrumen brainstorming, bukan alat untuk menggantikan proses berpikir mahasiswa dalam menyelesaikan tugas perkuliahan.

Selain kemampuan empat keahlian dasar bahasa seperti speaking, listening, writing, dan reading, mahasiswa diwajibkan mengenal persiapan seleksi kerja sejak dini seperti riwayat hidup, membangun portofolio, hingga personal branding. Pihak jurusan juga menyarankan mahasiswa aktif memanfaatkan media sosial pribadi untuk menampilkan karya atau kegiatan positif mereka.

Kesadaran mengenai pentingnya kebutuhan non-akademik ini juga dirasakan langsung oleh Annisa Maharani, mahasiswi semester enam. Menurutnya, aktivitas organisasi internal kampus sangat membantu pertumbuhan karakter kepemimpinannya. Lewat organisasi tersebut, ia banyak belajar mengenai cara beradaptasi, berkolaborasi, serta menyelesaikan konflik dalam tim.

Kalo dari skala 1–10 menurutku 9, karena dari sana aku mulai berani dan yakin memilih next step untuk karir aku,” ujarnya.

Annisa juga berpendapat bahwa kemampuan komunikasi menjadi keahlian penting yang perlu dimiliki mahasiswa Bahasa Inggris untuk menghadapi dunia kerja.

“Percuma bakat dan skill sebanyak apapun, tapi kalo segi komunikasinya kurang, ya percuma,” tuturnya.

Kesiapan para mahasiswa ini nantinya akan diuji secara nyata melalui program magang industri yang wajib diikuti menjelang akhir masa studi. Pelaksanaan magang diharapkan menjadi jembatan bagi mahasiswa untuk menerapkan teori perkuliahan di lapangan pekerjaan.

Gilang Surendra berpesan agar seluruh mahasiswa tidak cepat merasa puas dengan kompetensi standar yang dimiliki saat ini. Apalagi penggunaan teknologi yang masif serta persaingan yang semakin ketat, perlu bagi mahasiswa memiliki beragam keahlian dan keunikan tersendiri agar tidak tergilas oleh zaman.

“Jangan sampai ijazahnya itu menjadi kertas yang bernilai mahal saja, alias teman-teman memang mendapatkan ijazah ketika lulus tapi skill teman-teman kosong,” pungkasnya.

 






Penulis             : Ivana Anindya Mulkan – 3B D4 Bahasa Inggris untuk KBP

Editor              : Rahma Aurella – 3A D4 Bahasa Inggris untuk KBP


=


Previous Post Next Post