Ilustrasi suasana
keluarga menikmati hidangan bersama saat perayaan hari raya.
Foto: Pinterest.
CREWPERS.ID - Aroma
sate yang dibakar mulai tercium sejak pagi di beberapa sudut permukiman warga.
Asap tipis mengepul dari halaman rumah, sementara suara tawa keluarga terdengar
saling bersahutan. Perayaan Idul Adha memang selalu identik dengan kebersamaan
dan melimpahnya hidangan berbahan dasar daging kurban. Mulai dari rendang,
gulai, tongseng, hingga sate menjadi menu favorit yang hampir tidak pernah
absen di meja makan masyarakat Indonesia.
Namun, di balik kenikmatan tersebut, ada hal
penting yang sering kali terlupakan, yaitu menjaga kesehatan tubuh selama
perayaan berlangsung. Konsumsi daging merah secara berlebihan dalam waktu
singkat dapat memicu berbagai masalah kesehatan, terutama bagi mereka yang
memiliki riwayat kolesterol tinggi, hipertensi, maupun gangguan pencernaan.
Kementerian Kesehatan RI tahun 2022 mengimbau
masyarakat untuk menerapkan pola makan gizi seimbang dengan membatasi konsumsi
makanan tinggi kolesterol serta memperbanyak sayur dan buah selama perayaan
Idul Adha. Selain itu, Kementerian Kesehatan RI tahun 2025 juga menyarankan
masyarakat memilih bagian daging rendah lemak dan mengolah makanan dengan cara
yang lebih sehat agar kondisi tubuh tetap terjaga selama hari raya.
Hal inilah yang mulai disadari oleh sebagian
masyarakat, termasuk Helma Delfita (52), seorang ibu rumah tangga di Solok.
Helma mengaku kini lebih berhati-hati dalam mengolah dan mengonsumsi daging
kurban.
“Dulu kalau Idul Adha itu rasanya semua makanan
harus serba daging. Pagi sate, siang gulai, malam rendang lagi. Akhirnya badan
terasa cepat lelah dan perut juga tidak nyaman,” ujarnya sambil menyiapkan
lalapan di meja makan.
Pengalaman tersebut membuat Helma mulai
mengubah kebiasaan keluarganya sejak beberapa tahun terakhir. Ia kini membatasi
penggunaan santan berlebih dan lebih banyak menambahkan sayur sebagai pelengkap
makanan. Menurutnya, perubahan kecil tersebut cukup membantu menjaga kondisi
tubuh tetap sehat selama hari raya.
“Tetap makan daging, tapi porsinya dijaga. Saya
juga lebih sering buat sop atau sate dibanding gulai yang terlalu banyak
santan,” katanya.
Kesadaran untuk mengolah daging dengan cara
yang lebih sehat juga mulai terlihat di beberapa keluarga. Mereka kini memilih
mengolah daging dengan cara direbus, dipanggang, atau dijadikan sup agar
kandungan lemaknya tidak terlalu tinggi. Selain itu, konsumsi air putih dan
buah-buahan juga mulai diperhatikan untuk membantu tubuh tetap segar.
Meski begitu, godaan untuk menyantap hidangan
daging dalam jumlah besar tetap sulit dihindari. Apalagi suasana kumpul
keluarga sering kali membuat orang makan lebih banyak dibanding hari biasa.
Bagi sebagian masyarakat, momen Idul Adha dianggap sebagai kesempatan menikmati
hidangan spesial yang belum tentu tersedia setiap hari.
Di beberapa kawasan, tradisi memasak bersama
bahkan sudah dimulai sejak pagi hari setelah proses penyembelihan hewan kurban
selesai dilakukan. Anak-anak terlihat membantu menusuk sate, sementara para ibu
sibuk mengaduk gulai di dapur. Suasana hangat seperti inilah yang menjadi ciri
khas Idul Adha setiap tahunnya.
Helma mengaku dirinya kini juga mengajak
anggota keluarga berjalan santai pada sore hari setelah menikmati hidangan Idul
Adha. Menurutnya, cara sederhana tersebut cukup membantu tubuh terasa lebih
ringan dan tidak mudah lemas.
“Kalau habis makan terus tidur biasanya badan
terasa berat. Jadi sekarang saya biasakan jalan sore sama keluarga,” katanya
sambil tersenyum.
Idul Adha pada akhirnya bukan hanya tentang
menikmati hidangan daging kurban, tetapi juga tentang bagaimana menjaga
kesehatan di tengah kebersamaan keluarga. Menikmati makanan favorit tentu tidak
menjadi masalah selama dilakukan dengan bijak dan tidak berlebihan.
Perayaan hari raya yang sehat pun diharapkan dapat membuat masyarakat tetap menikmati momen penuh kebahagiaan tanpa harus khawatir terhadap kondisi tubuh setelahnya. Dengan pola makan seimbang, aktivitas yang cukup, dan kesadaran menjaga kesehatan, Idul Adha dapat menjadi momentum berbagi sekaligus belajar menjalani hidup yang lebih sehat bersama keluarga.
Penulis : Dinda Yulia -
3A D4 Bahasa Inggris KBP
Editor : Delia Novitri
Delin – 3A D4 Bahasa Inggris KBP
