![]() |
Ilustrasi
seorang
perempuan tampak memperhatikan rambut yang rontok di sisirnya sambil memegang
kepala dengan ekspresi cemas.
|
Foto: Pinterest |
CREWPERS.ID — Tumpukan tugas,
jadwal yang padat, dan tekanan untuk terus berprestasi sering kali menjadi
bagian tak terpisahkan dari kehidupan mahasiswi. Di balik rutinitas tersebut,
ada dampak yang diam-diam muncul dan kerap dianggap sepele, yaitu rambut
rontok. Meski terlihat sebagai masalah ringan, kondisi ini sering kali menjadi
tanda bahwa tubuh sedang mengalami kelelahan, baik secara fisik maupun mental.
Bagi Alya Septi (21), mahasiswi semester enam Universitas Andalas,
perubahan itu terasa perlahan tapi pasti. Kondisi tersebut mulai ia rasakan
dalam beberapa bulan terakhir saat aktivitas perkuliahan semakin padat. Awalnya
ia tidak terlalu mengkhawatirkan kondisi rambutnya, hingga suatu saat ia
menyadari jumlah rambut yang rontok semakin banyak.
“Awalnya cuma beberapa helai, tapi lama-lama tiap keramas atau nyisir
pasti banyak yang jatuh. Sampai kaget sendiri,” ujarnya.
Alya mengaku, kondisi tersebut mulai muncul ketika tugas kuliah datang
bersamaan dengan kegiatan organisasi. Ia harus membagi waktu antara rapat, tugas
kelompok, dan persiapan presentasi. Tanpa disadari, waktu istirahatnya semakin
berkurang.
“Sering begadang, makan juga nggak teratur. Rasanya capek terus, dan
ternyata ngaruh ke rambut juga,” tambahnya.
Ia juga sempat merasa cemas dengan perubahan tersebut, terutama saat
melihat rambutnya mulai menipis. Namun, di tengah kesibukan, ia tetap
memprioritaskan tanggung jawab akademik dibandingkan kondisi tubuhnya sendiri.
Baginya saat itu, menyelesaikan tugas lebih penting daripada memikirkan
kesehatan.
Cerita serupa datang dari Nur Afifah (22), mahasiswi tingkat akhir
Universitas Andalas yang tengah berjuang menyelesaikan skripsi. Tekanan yang ia
rasakan tidak hanya berasal dari tugas akademik, tetapi juga dari ekspektasi
lingkungan sekitar.
“Kadang yang bikin stres itu bukan cuma skripsi, tapi juga pertanyaan
orang-orang, 'kapan lulus?’ Itu kepikiran terus,” katanya.
Afifah menyadari rambutnya mulai rontok lebih parah saat memasuki masa
revisi skripsi. Hari-harinya dipenuhi dengan perbaikan dan target yang harus
segera diselesaikan.
“Tiap bangun tidur lihat bantal, ada rambut. Di kamar juga banyak yang
rontok. Sempat bikin nggak percaya diri,” ujarnya.
Awalnya, ia mencoba mengatasi kondisi tersebut dengan berbagai produk
perawatan rambut. Namun, hasilnya tidak sesuai harapan.
“Aku kira cuma masalah sampo atau vitamin, tapi setelah coba buat
pikiran lebih santai dan tidur cukup, rontoknya mulai berkurang,” jelasnya.
Tekanan fisik dan emosional yang dialami mahasiswa ternyata juga dapat
berdampak pada kesehatan rambut. Berdasarkan informasi kesehatan dari Halodoc,
stres dapat memicu kondisi telogen effluvium, yaitu fase ketika rambut
lebih mudah rontok akibat perubahan siklus pertumbuhan rambut. Kondisi ini juga
diperkuat oleh mesoestetic yang menjelaskan bahwa stres berkepanjangan
dapat mengganggu siklus alami rambut dan mempercepat kerontokan.
Pengalaman Alya dan Afifah menunjukkan bahwa tekanan kuliah tidak hanya
berdampak pada mental, tetapi juga fisik. Stres, kurang tidur, dan pola hidup
yang tidak teratur dapat memicu berbagai perubahan pada tubuh termasuk rambut
rontok, sebagai salah satu tanda kelelahan.
Di tengah tuntutan akademik, banyak mahasiswi terjebak dalam pola hidup
yang kurang seimbang. Begadang, kurang makan bergizi, serta terus-menerus
memikirkan tugas menjadi kebiasaan yang sulit dihindari. Jika berlangsung dalam
waktu lama, kondisi ini dapat memengaruhi kesehatan secara keseluruhan dan
menurunkan kualitas hidup.
Selain itu, tekanan untuk tetap tampil baik di depan orang lain juga
menambah beban tersendiri. Rambut yang menipis dapat memengaruhi rasa percaya
diri, terutama bagi mahasiswi yang aktif di lingkungan sosial kampus. Hal ini
menunjukkan bahwa dampak stres tidak hanya dirasakan secara internal, tetapi
juga terlihat secara fisik.
Kini, Alya mulai mencoba mengatur ulang rutinitasnya. Ia berusaha
memberi ruang untuk istirahat di tengah kesibukan.
“Sekarang aku lebih coba atur waktu, nggak mau terlalu dipaksain. Kalau
capek ya istirahat,” katanya.
Hal yang sama juga dilakukan Afifah. Ia belajar untuk lebih memahami
batas dirinya sendiri dan tidak memaksakan segala sesuatu harus sempurna.
“Aku belajar buat nggak terlalu keras ke diri sendiri. Ternyata itu
penting banget,” ujarnya.
Di balik ambisi dan tuntutan kuliah, kisah mereka menjadi gambaran bahwa bertahan bukan hanya soal menyelesaikan tugas, tetapi juga tentang menjaga diri sendiri. Rambut rontok mungkin terlihat sebagai hal kecil, namun bagi sebagian mahasiswi, itu adalah cara tubuh memberi peringatan bahwa kesehatan tidak boleh diabaikan. Karena pada akhirnya, keseimbangan antara tanggung jawab dan kesehatan menjadi kunci untuk tetap kuat menjalani tekanan kehidupan kampus.
Penulis : Dinda Yulia – 3A D4 Bahasa Inggris
KBP
Editor : Delia Novitri Delin – 3A D4
Bahasa Inggris KBP
